Kelabu

Saya tidak ingat kapan terakhir kali ke rumah ini. Mungkin sekitar 14 atau 15 tahun lalu, waktu kami masih sama-sama kuliah tingkat 2.  Dulu...

Kelabu

Saya tidak ingat kapan terakhir kali ke rumah ini. Mungkin sekitar 14 atau 15 tahun lalu, waktu kami masih sama-sama kuliah tingkat 2. 

Dulu waktu seragam kami masih putih abu-abu, rumah ini bagaikan rumah kedua. Pulang sekolah, naik angkot rame-rame, turun di terminal, lalu jalan kaki ke rumah berpagar besi metalik itu. 

Sebenarnya tidak ada hal spesial yang saya lakukan bersama teman-teman di sana: makan mie instan, jajan rentengan, atau berbagi minuman soda. Tapi rumah itu selalu menawarkan keteduhan untuk selalu kembali ke sana. 

Rumah itu jadi saksi kami menggulirkan cerita soal cinta diam-diam kami, patah hati yang menjadi-jadi, juga berbagai angan-angan dan ketakutan saat nanti kami menjadi dewasa. 

Kini saat kami sama-sama berusia kepala 3, saya kembali menginjakkan kaki lagi ke rumah ini. Kalau dulu rumah itu sepi tak bertetangga, kali ini rumah ini sudah punya teman di sepanjang kiri dan kanan. Kalau dulu tidak ada pohon mangga di seberang rumah, kini keberadaan pohon itu bisa jadi penanda bagi ojek online, "seberang pohon mangga ya mas". 

Dulu masuk rumah ini serasa rumah milik sendiri. Datang, lepas sepatu dan kaos kaki, cuci tangan kaki di kamar mandi belakang, lalu duduk santai di ruang televisi nonton vcd bajakan. Kali ini ritual itu masih tetap sama, namun entah mengapa detak jantung saya tak karuan sejak tadi membuka pagar yang kini berwarna hitam. 

Ada penyesalan ketika dulu saya masih berkantor beberapa blok dari sini tapi justru tak pernah berkunjung kemari. Sekarang penyesalan itu harus saya tanggung bertumpuk dengan rasa canggung.

Saya cuma ingin memberi pelukan pada teman yang ayahnya baru saja berpulang. Mengapa saya harus gugup? 

Sandal dan sepatu berserakan di tepi teras meskipun di depan garasi ada rak sepatu untuk tamu, sama seperti dulu. Bedanya kali ini di rak tersebut terisi sandal dan sepatu ukuran anak-anak. Dinding krem ruang tamunya juga sudah mulai terisi coretan krayon, pertanda bahwa hidup kami sudah berjarak jauh dari masa putih abu-abu. 

Sofanya masih sama, hanya ganti kulit dan bantalan. Ini masih sofa yang sama tempat saya dan teman-teman menumpang tidur sambil cerita macam-macam. Lingkar pertemanan terus berubah, tapi sofa ini tetap nyaman, seolah siap memeluk dan mendengarkan cerita setiap tamu di rumah ini. 

Saya menemuinya. Mencoba menatap matanya sambil sama-sama menguatkan diri, mencoba menghilangkan rasa asing. Tatapan yang beberapa menit kemudian berganti dengan tatapan kosong. Hening. Ia mencoba mencairkan suasana dengan bercerita bahwa anaknya sekarang sudah tiga, anak yang pertama baru saja ujian online, anak kedua sedang cerewet-cerewetnya, sedangkan si bayi sedang belajar duduk. 

Ia selalu ceria saat bercerita tentang apa yang ia suka. Celetukannya selalu hangat dan mengena. Ia selalu tahu apa yang harus ia katakan dalam situasi apa pun. 

Mungkin itu yang selalu membuat siapa saja nyaman berbagi cerita dengannya. Sampai sekarang kehangatannya tidak berubah. Ia adalah sahabat bagi semua orang, dan rumahnya adalah rumah bagi semua orang. 

Saya tak pernah bosan mendengarnya bercerita. Tapi saat itu ia lebih banyak diam, membiarkan teman kami satu lagi yang lebih banyak bercerita. Sesekali pikirannya melayang entah ke mana. Seperti ketika ia tidak mendengar panggilan anak sulungnya, atau ketika ia tak menyadari bahwa si bungsu sudah pulas di pangkuannya dan perlu dipindah ke kasur. 

Seandainya bisa, saya ingin memeluknya lama dan membiarkan ia menumpahkan semua yang tertahan. Persis seperti saat ia memeluk saya, menguatkan saya ketika kehilangan dan merasa tidak tahu bagaimana harus menjalani hari esok. Saya ingin ia tahu bahwa saya masih ada untuknya, seperti ia pernah selalu ada untuk saya. 


Hujan di bulan desember, rain, gloomy rain, hujan
Photo by Sam Willis from Pexels

Langit sudah semakin gelap ketika saya memutuskan untuk pulang. Masih ada rindu yang belum tuntas, masih ada tumpukan cerita yang belum bertemu ujungnya, tapi ia sedang butuh waktu untuk menyelami perasaannya sendiri. Saatnya kami pulang ke keluarga kami masing-masing.  

Di tengah rintik hujan yang perlahan semakin deras, hati saya mengulang doa yang sedari tadi saya ucapkan, semoga ia selalu diberi kekuatan dan tak pernah kehilangan harapan. 


Araya, 15 Desember 2020. 








Corona sucks

Karantina karena virus Corona sudah masuk minggu ke 8 atau lebih, tergantung kamu memulainya sejak kapan. Cuitan kerinduan untuk kembali aktif di luar rumah sudah banyak terdengar sejak minggu-minggu pertama karantina–sebuah kerinduan yang saya yakin kamu juga merasakannya.

Menghabiskan 24 jam sehari di dalam rumah sering membuat saya berpikir macam-macam. Baru saja berhasil membuat what so called resolusi tahun baru yang tidak pernah berhasil saya buat di tahun-tahun sebelumnya, eh harus bersiap kalau rencana-rencana tersebut gagal. Rasanya saya memang nggak cocok untuk bikin rencana sendirian.

Kalau dirinci, yang saya sebut pikiran 'macam-macam' tadi isinya lebih banyak soal kemungkinan-kemungkinan terburuk daripada sejumlah rencana-rencana dan harapan baik. Suram memang. Di masa-masa yang serba tak pasti seperti sekarang ini saya rasa berpikir demikian menjadi lebih realistis daripada melambungkan harapan setinggi-tingginya.

I miss playing outside © pexels.com

Selama karantina, hiburan yang saya anggap mewah seperti streaming film sambil goler-goler ternyata harus turun kasta jadi hiburan harian. Saya rindu ke bioskop, beli tiket last minute, dan sedikit

Main kejar-kejaran sama anak yang biasanya hanya bisa sebentar setelah jam kerja, sekarang justru bisa dilakukan sepanjang hari-setiap anaknya minta. Rasanya lucu juga karena selama ini saya juga kerja dari rumah. Lalu ketika balik ngantor dan balik kerja dari rumah lagi, rutinitasnya terasa berbeda.

Resep-resep yang selama ini hanya disimpan, satu per satu mulai dicoba. Meskipun belum sempurna tapi cukup menumbuhkan rasa percaya diri bahwa semua orang pasti bisa memasak, termasuk saya.

Ngomong-ngomong, ada sedikit perubahan yang saya rasakan belakangan ini. Saya jadi lebih gampang memuji orang, hehe. Ini berlaku di WhatsApp atau Instagram. Kalo dulu saya mo muji orang aja mikir, takut dianggap aneh, sok kenal, atau pansos (?). Tapi belakangan saya ga mikir dua kali untuk memuji orang lain apalagi temen-temen yang saya kenal. Apa aja saya puji: foto masakannya, foto kucingnya, foto bajunya, brosnya, cerita-cerita absurdnya, upload-an lagu Spotifynya. Banyak lah.

Mungkin jadi terkesan spamming, tapi ya bodo amat. Saya cuma mau mengapresiasi aja. Mungkin saya cuma bosan dan memuji mereka ternyata membuat saya merasa lebih baik dan ikut bersemangat. Mungkin juga saya takut kalo saya ga punya waktu banyak untuk bisa memuji karya-karya mereka.

Bahkan ke hal-hal sepele yang mereka lakukan untuk saya pribadi pun bisa saya ucapkan terima kasih habis-habisan. Entah. Moodnya lagi begitu.

Bikin mikir juga, kenapa sebelum-sebelumnya saya ga kayak gini ya? Padahal rasanya menyenangkan sekali. Mungkin ini bisa jadi kebiasaan baru yang akan saya pertahankan kalau Corona ini berakhir. Plus bonus saya mungkin akan lebih sering memeluk dan minimal cipika cipiki dengan mereka. Janji.

Kamu sendiri, ada perubahan apa selama masa karantina?

Segini dulu deh curhat saya selama Corona. Agak sedih juga postingan pertama tahun 2020 ternyata isinya pandemi. 

Kamu sehat-sehat selalu ya, lain kali kalo kita ketemu, i want to hug you. i love you. stay alive :*




Apa yang Paling Menyedihkan dari Kematian?

Apa yang paling menyedihkan dari kematian?

Rencana-rencana yang belum terwujud,
Kewajiban yang belum tuntas,
Hak yang belum diterima,
Pelukan yang terlalu singkat,

atau hidup yang rasanya tidak akan pernah sama lagi?

Ternyata Selai Srikaya Itu . . .

... bukan terbuat dari buah srikaya, tapi dari campuran santan, telur dan gula. Ini menjawab pertanyaan kenapa di kemasan selai srikaya nggak ada gambar buah srikaya, tapi malah ada gambar telur atau kelapa. Pantesan nama lainnya egg jam atau coconut jam. Pantesan rasanya beda sama buah srikaya asli.

Pantesan aku diketawain waktu ngeyel selai srikaya itu dari buah srikaya.

Jadi pengen sarapan roti srikaya deh...


Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.


Nanti aku ceritain kenapa film ini bagus.

Meskipun aku sendiri sebenernya gak terlalu relate sama kisah si sulung, anak tengah, atau bungsu yang ada di film ini, film ini tetep bagus.

Memikat dengan caranya sendiri.

***

Nanti aku ceritain kenapa aku mau nonton film ini sampe tiga kali.

Mungkin karena adegan Angkasa nyetrika baju.

Mungkin karena sosok Ayah ngingetin aku sama Oka Antara waktu main di Hari untuk Amanda.

Mungkin karena Niken Anjani cakep banget. Susan Bachtiar juga.

Mungkin karena diemnya Aurora itu sangat berbahaya.

Mungkin karena aku berharap dialog Aurora dan Ibu di teaser itu gak dihilangkan.

Atau mungkin karena ada Lika yang sesayang itu sama Angkasa.



Tapi sepertinya sih karena Kale. Kale dan Awan.

Awan yang merasa ragu tapi merasa sangat bebas ketika ada Kale.

Awan yang melakukan banyak hal pertama kali bareng Kale.

Kale yang percaya bahwa kebahagiaan itu tanggung jawab diri sendiri.

Kale yang nggak mau terikat. Dan Awan yang terus ingin mencoba.

Juga Kale dan Awan yang memberi contoh visual bagaimana sebaiknya lagu Hindia - Secukupnya bisa dinikmati berkali-kali.

Tapi serius,

Ardhito Pramono charming banget dan effortless banget waktu jadi Kale.

***

Nanti deh kita ngobrol soal NKCTHI.

Sambil pelan-pelan kita belajar menunggu lukanya kering, traumanya hilang, dan sedihnya mereda.

Nggak semua harus ada jawabannya sekarang.

Sabar, satu per satu.



Berarti Lukanya Belum Sembuh




“Bertahun-tahun saya lari dari kamu, hidup saya bebas. Damai. Sekarang kamu tiba-tiba muncul, kamu pikir saya mau ketemu kamu?”

Kira-kira begitulah kalimat yang saya rancang di kepala saya untuk membalas pesan singkat yang berbunyi: “Hai Ratih, ini X. Kamu apa kabar?”. 

Kalau hidup saya bisa disamakan dengan Ada Apa Dengan Cinta 2, kalimat ini mungkin akan muncul di adegan Rangga dan Cinta pertama kali bertemu kembali di Sellie Coffee Jogja. Persis sebelum kalimat “Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat”. 

Bedanya, saya bukan Cinta dan kamu bukan Rangga. Kami bukanlah pasangan yang sebaiknya kembali bersama-sama. Justru sebaliknya. 

Kamu adalah orang yang ingin saya hindari sejauh-jauhnya. Kamu adalah orang yang tidak ingin saya jumpai secara tiba-tiba, apalagi dengan sengaja. Saya tak ingin buang-buang waktu untuk mendengarkan kamu. Saya lelah dengan cerita-ceritamu yang entah benar entah bukan, tapi apa pun itu saya memilih untuk tidak percaya. 

Cukup.

Matchstick, Fire, Light, Striking, Ignition, Heat
Pic: pixabay.com

Tahun kemarin saya dengan bangga bercerita pada seorang teman bahwa saya bisa bebas dari lingkaran pertemanan toxic yang meninggalkan trauma. Jika kamu belum paham, kamu tokoh utamanya. Tapi tenang saja, saat itu nama dan identitasmu disamarkan. Mereka tidak akan tahu kalau orang yang selalu membuat saya terkekang itu kamu. 

Saya pikir, setelah benar-benar memutus hubungan dari kamu, hidup saya akan terbebas dari kamu selamanya. Sayangnya kita tumbuh di dunia jejaring sosial media. Temannya temanku, siapa tahu adalah temanmu juga. Yang artinya, meskipun saya tidak melebarkan jaring untuk mendekat ke arahmu, ada kemungkinan bagi kita untuk terhubung kembali, entah bagaimana. 

Seperti hari ini. 

Sebuah pesan dengan struktur kalimat yang baik. Sopan. Halus. Saya seharusnya tidak punya alasan untuk kesal saat pertama membaca namamu di pesan itu. Kalau saja pesan itu ditulis oleh kawan lama, saya tidak akan buang waktu lama untuk membalasnya. Tapi sekali lagi, ini kamu. 

Okelah dulu saya yang bodoh. Saya yang memilih untuk tiba-tiba mengabaikan kamu, lalu pergi meninggalkan kamu, bukannya maju menghadapi kamu, membantah semua argumenmu, dan menjelaskan kenapa saya tidak bisa percaya kamu lagi. Saya memang tidak seharusnya lari.

Tapi dulu seingat saya itulah hal terbaik yang bisa saya lakukan. Saya capek. Saya tidak sabar untuk segera bisa terbebas dari kamu. Maka, saat itu juga saya membakar jembatan dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. 

Belasan tahun berlalu, saya pikir saya sudah cukup kebal dengan kamu. Meskipun saya tidak berharap akan mendengar lagi cerita tentang kamu, saya pikir saya akan mendengar cerita yang berbeda tentang kamu. Ternyata tidak. 

Kamu hari ini bilang apa, besok bilang apa, lusa beda lagi ceritanya. Kamu ya begitu itu. Sekusut itu. 

Ternyata saya masih sebal dengan kamu. Saya masih belum bisa baik-baik saja ketika membicarakan kamu, dan kini semakin ngeri ketika tahu bahwa kita masih sangat mungkin untuk suatu saat bertatap muka dan bicara. 

Lalu kenapa bisa menulis tentang kamu sepanjang ini? Ya untuk memastikan saja bahwa saya, mau tidak mau, siap tidak siap, memang harus bisa menghadapi kamu dengan biasa saja. Kali ini saya tidak akan lari. Tapi saya akan tetap menjaga jarak. 

Saya akan tetap bermain dengan waktu hingga luka ini sembuh. Hingga ketika kelak ada yang bertanya tentang kamu, saya bisa menjawab dengan lepas tanpa dendam. 









Favorit Baru: Kolam Renang Tirta Buana (Rampal) Malang

Di sebuah Minggu siang yang tadinya rencananya hanya akan di rumah saja setelah ikut gerak jalan Arema, saya dan Mama Rizky (temen sekolah Decam) tiba-tiba memutuskan untuk berenang. Kolam yang dipilih pun kolam renang tentara alias kolam renang Rampal.

Kolam ini sebenernya punya nama keren, Tirta Marabunta. Diberi nama Marabunta mungkin mau menyesuaikan dengan nama Yonif Marabunta yang letaknya gak jauh dari lokasi kolam. Meskipun  suka dengan namanya yang gagah, tapi saya bersyukur para tentara gak terpikir untuk menghiasi kolam ini dengan patung-patung marabunta. Serem cuy :(



Oiya, ngomong-ngomong soal hiasan, kolam ini hampir ga ada unsur dekorasinya. Dari pintu masuk kita sudah disambut dengan kolam standar kompetisi ukuran 50m x 25m. Di sebelah kanan kolam dewasa ada kolam anak-anak yang dilengkapi prosotan dan ember tumpah. Desain yang sangat to the point, atau kalau bahasanya Suhay Salim, "desainnya ga berisik".

Hiasan lain (ya kalau bisa dibilang hiasan) ada satu banner yang dipajang di deket musholla. Lupa persisnya tulisannya apa, tapi isinya kurang lebih "tidak ada kata lelah dalam berlatih". Bener-bener khas prajurit banget.


Di antara kolam anak dan kolam dewasa ada beberapa gazebo tempat duduk-duduk. Kemarin saya memilih duduk di tribun agar lebih leluasa menaruh barang juga lebih teduh dan gak silau. Biar lebih tenang, kita juga bisa masukin barang ke loker yang ada di pintu masuk. Bayarnya cuma Rp 3rb aja, trus setelah itu kita dikasih kunci loker yang digelangin.

loker

gelang dikunciin. kunci digelangin
Entah karena saya udah lama banget ga renang atau gimana, acara renang yang saya kira hanya berlangsung cuma sebentar ternyata kemarin bisa renang agak lamaan. Kami masuk kolam jam 10 dan selesai hampir jam setengah 3. Tentunya itu sudah termasuk selingan ngebilas anak, nyuapin makan, ngambilin mainan Decam yang jatuh di kolam, dan lain-lain. Jam segitu pun sebenernya saya masih mau renang lagi kalo saja Decam ga tiba-tiba ketiduran di tribun atas -___-.



Untuk makanannya, di dalem area kolam renang cuma ada satu warung yang jualan. Menu yang dijual adalah menu kesayangan kita bersama: mie goreng, Pop Mie dan cilok. Ada juga kopi sasetan dan minuman botolan. Sepertinya sih bisa bawa makanan dari luar karena ga diperiksa juga waktu di depan. Warungnya juga jual pulsa all operator lho! Siapa tau kan pas lagi renang trus tiba-tiba pulsa abis jadi ga bisa pesen ojek online buat pulang?


Buat yang mau renang di sini, saya sarankan bawa perlengkapan renang yang lengkap tapi seperlunya aja. Karena di sini ga ada persewaan handuk, pelampung dan ga ada yang jual sabun, sampo atau lotion. Adanya jual kacamata renang doang untuk anak dan dewasa. Ban floating fotogenic bentuk bebek atau flamingo juga ga ada, jadi kalau mau renang sambil pemotretan pakai properti silakan bawa sendiri yak.

Terus terang, kolam Tirta Marabunta ini di luar ekspektasi saya. Habisnya beberapa kali ke tempat rekreasi yang masih di bawah dinas tertentu rasanya agak kurang terawat. Misal cat mengelupas, mainan karatan, kamar mandi ga bersih, dll.

Nah kalo di kolam Rampal ini enggak, semua serba nyaman dan bersih. Memang ini kolam baru sih, gak adil kalau dibandingkan dengan tempat rekreasi lainnya yang udah ada sejak jaman orba. Tapi boleh dong berharap semoga 10-20 tahun lagi kolamnya masih sebersih dan senyaman ini.

Dengan harga tiket yang terbilang murah yaitu Rp 15rb saja, saya memasukkan kolam renang Tirta Buana sebagai salah satu kolam renang underrated favorit saya di Malang. Jadi kalau kamu lagi di sana dan ketemu saya, bolehlah kita renang bareng lalu berbagi mie goreng.





Bateeq Lounge, Co-Working Space Baru di Atria Hotel Malang

Entah kenapa kalau ngomongin soal hotel business terbaik di Malang, selalu kebayangnya Atria. Tiap main-main ke Atria, selalu ada aja seminar, conference, atau raker yang lagi diadain di sana. Ya jelas, namanya aja Atria Hotel & Conference, jadi wajar banget kalau ballroomnya yang luas itu selalu occupied untuk business meeting.



Nah, beberapa waktu lalu, Atria memperkenalkan fasilitas terbarunya yaitu Bateeq Lounge. Dengan tagline "Eat, Drink, Co-Working Space", Bateeq Lounge ini bisa jadi solusi buat kamu yang sering bingung mau meeting di mana. Pasti pernah kan, kehabisan ide tempat untuk meeting? Bosen meeting di kafe mulu tapi gak nyaman kalo sewa meeting room, atau pengen meeting serius tapi tetep bisa nongkrong hore? Nah biar ga bingung, langsung aja ke Bateeq Lounge.


Bateeq Lounge ini terbuka untuk umum, alias siapa aja bisa ke sini, ga harus tamu hotel. Lokasinya di seberang resto Atria, ga jauh dari lobby. Dulunya Bateeq Lounge ini adalah private bar. Diutak-atik sedikit oleh dua arsitek andal, Pak Adi dari PT Paramount Propertindo dan Pak Dhedi Koesdwinanto dari PT Kamadjaya Cahya Persada, akhirnya jadilah Bateeq Lounge seperti sekarang.


Mature vibesnya berasa banget. Ada nuansa industrial yang bikin ruangan terkesan elegan dan modern, tapi tetap ada sentuhan tradisionalnya. Kapasitas ruangannya juga cukup besar, bisa menampung sampai sekitar 98 kursi. Ada sofanya juga buat yang pengen ngobrol santai, atau kalau mau suasana ngobrol yang lebih hangat, bisa pilih tempat di bar.


 

Oiya, yang enak dari Bateeq Lounge adalah kita ga perlu bayar apa-apa lagi untuk bisa pakai fasilitas ini. Cukup pesen makanan dan minuman yang disediakan, kita bisa bebas meeting di Bateeq Lounge sampai seharian, ga ada charge tambahan. Pilihan menunya rata-rata western seperti Garlic Bread, Chicken Wings, aneka pizza, pasta dan grilled menu. Sedangkan untuk minumnya ada beragam jus, squash, smoothies, dan kopi dengan manual brewing. Minuman tradisional seperti teh jahe atau teh sere juga ada loh!.


Pic: Atria Hotel & Conference Malang


Buat yang mau nyobain Bateeq Lounge, yuk silakan kemari mumpung ada diskon 20% sampai setahun ke depan. Lumayan banget buat ngajak meeting vendor atau klien kan?. Selain itu kamu juga bisa belanja kain batik modern milik brand Bateeq yang ada di dekat pintu masuk lounge. Cucok buat oleh-oleh juga nih.

So, silakan tambahkan Bateeq Lounge ke daftar rekomendasi tempat meeting atau co-working space andalan kamu. Jangan khawatir, internetnya kenceng banget dan tempatnya juga tenang ga berisik. Yuk buktiiin langsung ke Bateeq Lounge!


Nongkrong Murah Meriah di Aston Inn Batu Malang



Sebagai ibuk-ibuk yang tergabung dalam beberapa grup wasap yang isinya ibuk-ibuk juga, salah satu pertanyaan yang sering muncul di grup WA adalah: “Moms, tempat meet up yang enak di mana ya? “ Kadang pertanyaannya ada buntutnya: “Kalo bisa yang viewnya bagus dan instagrammable”. Yang cukup bikin pusing adalah, ketika beberapa rekomendasi kafe dan resto sudah muncul, selalu ada request tambahan lagi: “Selain itu di mana ya?”

Makin pusing kan jawabnya :))

Karena sering dapet pertanyaan kayak gitu, saya jadi sering merekomendasikan untuk meet up atau arisan atau sekadar ngeteh dan nongkrong cantik di hotel saja. Apa nggak takut boros? Well, ternyata di hotel itu nggak selalu mahal lho.

Beberapa hari lalu saya dan temen-temen main ke salah satu hotel baru di Malang Raya, Aston Inn Batu. Aston Inn yang merupakan bagian dari grup Archipelago International (The Alana, Harper, Favehotel) pasti sudah punya standar layanan yang memuaskan.

Pemandangan dari Bellis Kitchen Hotel Aston Inn Batu - @ikiule
Pilihan lokasi Aston Inn Batu juga cukup strategis. Meskipun bukan terletak di jalan besar, tapi lokasi Aston Inn ini enak banget buat yang mau main-main ke sekitaran Jatim Park 1 atau Klub Bunga. Ancer-ancernya, dari Museum Angkut belok kiri dan lurus aja sampe kira-kira 400 meter, udah deh sampai. Jarak dari tempat wisata lain seperti Jatim Park 2 mungkin cuma sekitar 1,5 km. Gak terlalu macet juga kalau misalnya high season.

Nah sekarang saya cerita dikit soal kamarnya dulu ya. 

 

Konsep Eco Green di Aston Inn Batu

Yas. Aston Inn termasuk salah satu hotel yang sudah mulai menerapkan konsep eco green di layanannya. Jadi meskipun di kamar disediain air minum kemasan, tapi air minum kemasannya berbayar alias gak free. Sebagai gantinya, Aston Inn menyediakan dispenser di setiap koridor supaya pengunjung bebas refill air minum. Mau air anget bisa, air dingin juga bisa.


Tetap disediakan air minum dalam kemasan tapi berbayar

Saya lebih suka hotel yang nyediain dispenser gini karena gak usah khawatir malem-malem kehabisan air minum dan juga lebih hemat. Jadi kalau kamu mau nginep di sini, jangan lupa bawa botol minum sendiri ya!

Spacious room and breathtaking view

Enaknya kamar di Aston Inn Batu adalah semua kamarnya ada balkonnya. Jadi kalau pagi dan cuaca cerah, kamu bisa menikmati pemandangan gunung Arjuno atau Panderman dari kamar. Kalau malem, pemandangan gunungnya digantikan oleh city light kota Batu yang bikin kesan romantis. Uwuwuw. Cocok banget buat staycation atau perayaan wedding anniversary.

Kamar Hotel Aston Inn Batu - @ikiule
Selain itu kamarnya juga lega banget, apalagi yang deluxe. Salah satu ukuran leganya adalah, kalau ditambah extra bed di kamar pun kamu tetep bisa jalan-jalan di kamar dengan leluasa, hehe...

Swimming pool & gym cuma Rp 50K!

Kalau jadi tamu hotel, sudah pasti bisa berenang dan nge-gym gratis di hotel. Tapi kalau buat tamu umum, kita bisa loh berenang dan nge-gym di sini, cuma bayar Rp 50.000 aja. Udah termasuk makan, minum, handuk.

Kolam renang yang bisa jadi wedding venue - @ikiule


Kolamnya ini juga bisa dipakai untuk wedding venue dengan harga mulai Rp 30 juta untuk 200 pax. Buat yang cari rekomendasi intimate & private wedding venue, sepertinya poolnya Aston Inn Batu bisa jadi pilihan.

 

Angkringan “Akrab with Cak Udin”

Nah ini nih, yang saya bilang tadi kalau nongkrong di hotel gak selalu mahal. Di Aston Inn Batu ada program angrkingan yang bertajuk “Akrab with Cak Udin”. Cak Udin ini panggilan akrab chef Topan, yang karena satu dan lain hal akhirnya dipanggil Cak Udin, hehe.

Menu angkringan di sini rasanya beneran kayak angkringan di pinggir jalan, tapi yang ini versi high classnya. Nasinya bukan nasi bungkusan, tapi diambil dari magic jar jadi tetep anget. Trus lauknya ada macem-macem mulai dari sate usus, bakso ikan, gorengan, ayam bacem, oseng kacang panjang, aneka sambel, dan lain-lain. Harganya? per tusuk cuma Rp 5.000 aja, nett.

Menu khas angkringan, Rp 5ribu/tusuk

Kalau harga segini, kayaknya bukan cuma para pekerja aja yang bisa nikmatin, tapi dedek-dedek mahasiswa juga bisa.

Yang mau nyobain angkringannya, langsung aja ke Bellis Kitchen di lantai 8 setiap hari Kamis dan Jumat. Di sini ada barnya dan resto outdoornya (mau bilang rooftop tapi sebenernya ga di atap juga tempatnya), kamu bisa pilih mana yang paling nyaman.

Kalau di bagian outdoornya, kamu bisa langsung menikmati kerlap-kerlip kota Batu sambil menikmati embusan angin yang semriwing. Gak usah takut kedinginan karena area ini didesain dengan ajaib sehingga kalau siang terik ga terasa panas dan kalau malem ga bikin menggigil kedinginan. Ya kalau kedinginan, langsung aja ambil wedang jahe anget di booth angkringan. Enak to?

"Tapi masa udah jauh-jauh ke hotel makannya angkringan?"

Oh tenang. Aston Inn Batu gak cuma punya menu angkringan, ada juga BBQ buffet dinner atau paket sarapan yang harganya cuma Rp 100.000 aja. Kalau barbeque adanya hari Sabtu, cocok buat malem mingguan. Kalau mau paket dinner berdua sama pasangan juga bisa, ambil aja paket Romantic Package dengan harga Rp 250.000 udah termasuk set up menu dan dekor bunga mawar romantis.

Last but not least, tentunya ada juga paket menarik buat ibuk-ibuk penggiat arisan. Dengan harga paketan mulai dari Rp 125.000,- ibuk-ibuk sudah dapet welcome drink, set up menu dan dekorasi spesial. Buat yang pesan min 25 pax bisa dapet free 1 voucher BBQ untuk dua orang, sedangkan kalau booking untuk 50 pax bisa dapet free 1 voucher kamar. Kalau dihitung-hitung, nongkrong di hotel ga terlalu nguras dompet kan?



Kalau berminat main-main ke sana, bisa telp 0341-595555 atau WA ke 0812 3453 8908. Follow juga instagramnya di @astoninn_batu biar bisa tau lebih dulu promo terbaru dari Aston Inn Batu.

Jadi, kapan nih kita BBQan di Aston Inn Batu?



Jadi Parasite Sebenernya Film Apa?

"PARASITE BAGUS BANGEEET"

Begitu bunyi pesan WA dari teman saya beberapa waktu lalu. Saya diamkan pesan tersebut sambil menunggu info lanjutan tentang apa itu Parasite. Apakah itu nama tempat hiburan, hotel, restoran, atau apa? 

Selang beberapa menit, teman saya kemudian nyerocos panjang tentang Parasite dan beberapa kali melontarkan pujian bagi sutradara dan pemainnya. Oh jadi Parasite ini film Korea.
Foto: https://twitter.com/CBIpictures/

Saya awalnya tidak tertarik menonton Parasite. Melihat film ini dikategorikan sebagai thriller ditambah lagi posternya tampak seperti bukan film yang bahagia, niat menonton semakin surut meskipun sebenarnya penasaran juga. Kalau tidak diajak Ule nonton Sabtu malam lalu, saya mungkin akan nonton Parasite bajakan sendirian. 

Parasite dibuka dengan keseharian keluarga Kim yang tinggal di rumah sempit ujung gang. Meskipun hidupnya pas-pasan, tapi keluarga Kim gak pernah diceritakan mengeluh. Bisa dapet sinyal wifi dari tetangga aja mereka udah seneng banget. Meskipun mereka mesti nempelin hape deket banget ke plafon langit-langit rumah, atau buka WA di toilet.


Kondisi keluarga Kim mulai berubah ketika anak laki-lakinya mendapat pekerjaan sebagai guru les bahasa Inggris di keluarga Park. Dengan beberapa trik licik, semua anggota keluarga Kim berhasil dapat pekerjaan dan digaji dengan layak oleh keluarga Park. Awalnya aman-aman saja sampai suatu ketika si pembantu lama keluarga Park kembali ke rumah dan membongkar rahasia ruang bawah tanah rumah mantan majikannya tersebut.

Sepanjang film ada banyak dialog yang bikin tertawa, tapi itu gak berarti Parasite jadi film komedi. Malah hal-hal yang bikin ketawa di Parasite justru jadi jembatan buat berbelok jadi film thriller. Dan ketegangannya sungguh tidak bisa ditebak.

Kejutan yang dihadirkan bukan hanya muncul untuk kepentingan cerita tapi juga mampu mengubah kesan saya pada masing-masing tokoh. Situasi semacam ini yang membuat Parasite berhasil mengaduk emosi penonton dan mungkin membuatmu keluar dari bioskop dengan perasaan yang tidak nyaman.

Yang saya suka dari Parasite, semua karakter punya tugas yang sama dalam menghidupkan cerita. Bahkan tokoh yang muncul hanya sekelebat atau yang selama film ditampilkan hanya lari-lari, menggambar dan bersikap aneh pun ikut memegang peran penting dalam keutuhan cerita.

Tambahan lagi, DoP atau sinematografernya juga sangat lihai dalam menggambarkan kesenjangan   dua keluarga. Adegan favorit saya adalah ketika anak perempuan keluarga Kim harus menghadapi banjir yang meluap di rumah mereka. Miris sekali.

Parasite memang bukan feel good movie, tapi sebaiknya kamu sempatkan untuk nonton film ini. Parasite adalah tipe film yang akan terus menempel di kepala dan sesekali muncul di ingatan ketika kamu sedang di jalan sendirian, atau ketika pikiran di awang-awang. Parasite adalah film yang akan menahanmu tertawa terlalu riang sekaligus mengajakmu menertawakan hidup saat kamu merasa berada di titik terendah.

Ada yang menyebut genre Parasite ini tragicomedy. Mungkin tepat, mungkin juga tidak. Tapi memang, film ini lebih banyak menyisakan getir daripada lelucon. Saya jadi paham kenapa teman saya memuji-muji Parasite dengan huruf kapital semua.