Pengisi Daya

Aku selalu bilang pada diriku sendiri, bahwa mencintaimu ini sebenarnya urusan mudah.  Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap berada d...

Showing posts with label musik asik. Show all posts
Showing posts with label musik asik. Show all posts

Film Coldplay: A Head Full of Dreams

Tadinya saya pikir, film Coldplay: A Head Full of Dreams adalah liputan konser A Head Full of Dreams seperti yang pernah mereka buat sebelumnya dalam Coldplay Live 2012 saat tur Mylo Xyloto. Setelah nonton trailernya, Coldplay: A Head Full of Dreams ternyata film dokumenter tentang perjalanan karir Coldplay selama 20 tahun ini. 



Adegan dibuka dengan obrolan via telepon antara  Mat Whitecross sang sutradara dengan Chris Martin. Chris bilang ke Mat untuk tidak membuka film dengan menyorot masing-masing personel band naik ke atas panggung. Bagi Chris adegan tersebut terlalu standar untuk sebuah film dokumenter band.

Tapi Mat mungkin punya pertimbangan sendiri kenapa akhirnya tetap memilih adegan Chris Martin, Guy Berryman (bas), Will Champion (drum) dan Jon Buckland (gitar) yang bersiap naik panggung di sebuah gigs kecil di kota Camden tahun 1998 sebagai pembuka. Dari situ kita tahu bahwa Coldplay di awal karirnya ya sama saja kayak band-band kampus yang sering kita lihat sekarang.

Coldplay: #AHFODFilm ©coldplay.com


Chris Martin masih gondrong kriwul dan pakai kawat gigi, baju manggung mereka masih sangat biasa sekedar t-shirt and jeans, belum ada xyloband, tapi semangat mereka untuk ngeband udah keliatan terutama Chris Martin.

Seperti yang dibilang Guy Berryman, Chris Martin is a massive ball energy. Kamu bisa merasakan semangatnya saat ngomongin soal band, saat tiba-tiba dapet ide untuk bikin lagu, dan tentang keyakinannya bahwa Coldplay suatu hari akan jadi band yang sangat besar.  

Yang menurut saya bagus dari film dokumenter #AHFODFilm ini adalah editingnya. Adegan-adegan flashback dan fast forwardnya diramu cukup rapi, tapi kerasa banget lompatan emosinya. Dulu mereka udah seneng banget bisa manggung di pub kecil, sekarang mereka kudu siap ikut tur dunia yang bisa makan waktu 2 tahunan. Mana tiketnya sold out melulu...

Di beberapa bagian kadang bisa kedengeran suaranya Chris dan personel lainnya ikut bergetar kayak mau nangis waktu nyeritain footage yang lagi ditayangin. Mungkin itu juga alasannya kenapa di awal film Chris bilang kalau dia mungkin gak akan bisa nonton film ini. Terlalu emosional buat dia.

Film dokumenter tentang persahabatan

Film ini banyak ngasih tahu sisi lain Coldplay yang gak pernah kita tahu sebelumnya. Salah satunya, yang bikin band ini bisa bertahan (selain karena lagunya bagus) adalah nilai persahabatan yang kuat banget. Kalau biasanya band itu frontman-sentris, Coldplay ternyata gak begitu.

Seperti band-band pada umumnya, Coldplay terbentuk dengan basis pertemanan. Chris ini temen satu flatnya Jon Buckland waktu kuliah, dan sempet ngeband bareng berdua. Trus mereka sekelas sama Guy Berryman dan akhirnya kenal juga sama Will Champion, lalu jadilah Coldplay.


Manajernya saat itu juga temen deket mereka sendiri, Phil Harvey. Bahkan Mat Whitecross sang sutradara juga temen main mereka dari awal Coldplay belum berempat. Makanya gak heran kalo Mat punya banyak banget footage langka yang mungkin mereka sendiri lupa kalau kejadian itu pernah ada.

Di tahun 1999 waktu Coldplay mau rilis EP, Will Champion dikeluarkan dari band karena menurut produser permainan drumnya gak bagus. Pemecatan Will ini ternyata bikin Coldplay pincang. Udah berkali-kali audisi tapi tetep belum nemu yang cocok. Akhirnya Chris Martin minta maaf ke Will sekaligus minta dia untuk balik sama Coldplay.

Untungnya, Will mau. Syaratnya, Chris yang bukan peminum itu disuruh minum vodka sampai mabuk biar dia nyadar kalau apa yang dia lakukan ke Will itu jahat. Selain itu Will juga mau balik lagi ke Coldplay asalkan band ini pakai sistem demokrasi, jadi semua suara personel di band itu penting, gak bisa main asal pecat kecuali emang ngelakuin kesalahan fatal (drug).

Kalau saya ngeliatnya sih, emang kayaknya mereka sendiri yang maunya ngeband sesuai personel awal. Ngeband kadang bukan soal skill dan bisa bikin lagu bagus tapi juga soal chemistry (yak sotoy...). Mengutip pernyataan Chris: “Without the other three, each of us would be kind of screwed,”

A post shared by Coldplay (@coldplay) on

Cerita lain adalah soal manajer gantengnya Coldplay, Phil Harvey. Kalau kamu ngikutin Coldplay, pasti udah tahu kalo Phil sering disebut sebagai Coldplay’s fifth member. Phil ini juga yang ngurusin Coldplay dari mereka bukan siapa-siapa sampai akhirnya di tahun 2001 mereka menang Brit Awards 2001 sebagai Best British Band dan Best British Album (Parachutes).

Lha kok ternyata Phil justru keluar gak lama setelah acara awards itu. Alasannya sangat bisa dimengerti: Coldplay sudah mulai terkenal, sudah mulai terlalu ribet untuk ditangani Phil seorang diri sampai bikin depresi.

Selama absennya Phil, Coldplay mengaku kalau mereka kayak kehilangan arah. Seolah-olah semua keputusan yang mereka ambil itu salah. Ini kejadian waktu mereka bikin album X&Y. Phil gak ada di sana dan mereka merasa nggak utuh sebagai Coldplay.

Mungkin ini juga yang bikin X&Y buat saya jadi least favourite album. Secara implisit mereka sendiri mengakui kalau album X&Y ini "untungnya" ketolong sama Fix You, selebihnya they’re not really into it. Kalau kamu perhatiin juga, lagu-lagu di album X&Y ini ceritanya suram, banyak cerita tentang sesuatu yang incomplete, missing pieces, juga insecurites.

Lagu kesukaan saya di album X&Y juga cuma dua: The Hardest Part dan Speed of Sound. Maaf saya bukan jamaah Fix You meskipun lagu ini liriknya kuat banget dan sangat personal buat Chris Martin & Gwyneth Paltrow.

Lalu mungkin Coldplay gak betah untuk limbung berlama-lama, dan Phil mungkin juga merasa istirahatnya sudah cukup. Setelah album X&Y laris belasan juta kopi, Coldplay memutuskan untuk narik balik Phil ke tim manajemen. Saat itu Coldplay sudah dimanajeri oleh Dave Holmes, manajer mereka sampai sekarang dan Phil merasa Coldplay sudah berada di tangan yang tepat, jadinya Phil masuk sebagai Creative Director.

Ah brotherhood love, mereka sepertinya memang gak bisa lepas satu sama lain ya?.

Yang tidak diceritakan dalam film


Meskipun film ini banyak nampilin sisi lain Coldplay yang gak pernah kita tahu, tapi ada beberapa bagian penting yang menurut saya kurang digali. Pertama, tentang tekanan yang mereka rasain di dalam band.

Kalau kamu amati, tiap Coldplay selesai rilis album, mereka sering banget bilang bahwa album ini mungkin jadi album terakhir mereka karena kemarin udah habis-habisan banget bikinnya dan gak tau lagi gimana caranya bikin album yang lebih bagus dari ini.

Tapi tahun depan mereka udah bikin album baru lagi. What kind of sorcery is this? 

Apalagi kondisi mereka sekarang udah sangat jauh berbeda. Dulu mereka masih sekampus, seasrama, gampang ketemunya. Sekarang Chris Martin udah tinggal di LA sementara personel lainnya masih tinggal di London. Ketemu juga jarang. 

Trus apa dong rahasianya mereka bisa ngatasin semua masalah itu? What's your stress reliever?
A post shared by Coldplay (@coldplay) on


Kalau mau mengandalkan kecanggihan teknologi dan nilai-nilai persahabatan seperti cerita di atas sih ya mungkin memang bisa jadi cara untuk berkomunikasi, ngomongin proses kreatif dan sebagainya. Tapi saya percaya pasti ada cara lain di luar itu yang bisa bikin mereka masih tetap waras sampai sekarang. Sayangnya hal itu gak diceritain di dalam film.

Hal kedua yang menurut saya terlewat tapi sebenernya penting untuk diceritakan adalah perjuangan mereka menembus pasar Amerika. Yang ada dalam film cuma cerita pertama kali Coldplay manggung di Amerika tahun 2004, dimana mereka pertama main di sebuah festival musik dan harus berbagi panggung dengan band yang sudah punya nama seperti Papa Roach.

Saat itu belum banyak penonton Amerika yang tahu Coldplay, bahkan punya albumnya. Nah perjalanan mereka dari band yang clueless sama pasar Amerika trus sampai akhirnya bisa tampil di acara Super Bowl ini kan menarik untuk disimak.

Apakah pasar Amerika ini penting untuk Coldplay? Gimana rasanya menang Grammy? Trus apa bener duet ama Rihanna, Beyonce bahkan The Chainsmokers itu salah satu cara Coldplay untuk bisa diterima pasar Amerika? Why butterfly?

Mungkin itu pertanyaan klise, tapi rasanya sayang aja gak masuk di film dokumenter perjalanan karir 20 tahun Coldplay.

We want more!

Okay, rasanya saya gak pernah nulis sepanjang ini di blog. Pengen disingkat lagi tapi ya udahlah segini aja gapapa. Terima kasih sudah baca sampai titik terakhir. Semoga semakin banyak lagi film dokumenter atau film biografi band dan musisi yang tayang di bioskop karena nyanyi-nyanyi di bioskop itu seru gaes!

Buat yang kemarin gak sempat nonton di bioskop, bisa nonton di Amazon Prime atau beli DVDnya di negara tetangga. Info selengkapnya bisa dicek di instagram Coldplay. 

Akhir kata, i love you guys, as much as i love Coldplay, maybe. See you!













  












Polemik Biopik: Bohemian Rhapsody

Sejak pertama kali mendengar kabar Queen akan dibuatkan film biografinya, saya termasuk salah satu dari ribuan orang yang antusias menantikan film ini. Apalagi setelah pihak Fox mengumumkan Rami Malek sebagai pemeran Freddie Mercury.

Kalau banyak orang susah melepas image Rami Malek sebagai Elliot, hacker misterius di serial Mr. Robot, saya justru mengingatnya sebagai Pharaoh yang adorable di trilogi Night at the Museum. Dengan kemampuan akting yang cukup baik, saya pikir casting director sudah mengambil keputusan tepat memberi Rami Malek untuk memerankan tokoh besar dan kompleks seperti Freddie.

Keinginan untuk nonton film ini makin kuat setelah melihat first look Rami Malek sebagai Freddie dalam replika konser Live AID yang juga jadi bagian dari film ini. Gesturnya mirip banget!

First look Rami Malek as Freddie Mercury © ew.com

Lalu bagaimana filmnya?

Sebagai film, Bohemian Rhapsody sangat memanjakan mata. Secara visual tampilan ala tahun 70-80an bisa dibilang konsisten mulai dari tone warna, kostum, tatanan rambut, motif karpet hingga font yang digunakan dalam film semuanya kental dengan suasana retro. Kalau Suicide Squad aja bisa menang nominasi Oscar, saya rasa Bohemian Rhapsody juga bisa.

Oke. Kalau ceritanya?

Nah kalau ceritanya, mungkin ini yang diributin banyak orang dan bikin penilaian ke Bohemian Rhapsody terpecah. Gak sedikit fans berat Queen yang merasa kalau film ini melenceng dari fakta. Deretan panjang ketidaksesuaian tersebut sudah diulas dengan apik oleh Tirto, silakan Anda cocokkan dengan filmnya.

Tapi bagi saya yang hanya sekadar bocah yang tumbuh bersama lagu-lagu Queen dan tidak mengikuti dengan seksama perjalanan karir Queen justru merasa bahwa film ini menarik dan tetap bisa dinikmati. Masalah cerita dalam film yang berbeda dengan fakta, bukankah George Custon pernah bilang kalau tidak usah mencari kebenaran sejarah pada film biografi musisi?.

Ada lagi pendapat yang bilang bahwa replika konser Live Aid adalah satu-satunya bagian terbaik dari Bohemian Rhapsody. Well i beg to differ. Termegah mungkin iya, mengingat gerakan Rami Malek benar-benar dibuat mirip dengan aslinya, plus tatanan gelas minuman di atas piano dan detil minor lainnya. Tapi kalau dianggap sebagai bagian terbaik, saya rasa ada beberapa bagian dari film ini yang perlu diapresiasi.

Misalnya, dinamika hubungan antara Freddie Mercury dengan ayahnya, sesi rekaman Bohemian Rhapsody, dan tentunya perjalanan asmara Mary & Freddie. Bohemian Rhapsody juga punya celetukan-celetukan lucu yang menghibur. Selain itu, kucing-kucing Freddie juga menggemaskan sekali!.

Meksipun harus diakui ada juga beberapa bagian yang mmebuat film ini terasa kedodoran seperti ketika Freddie tiba-tiba mendapat wangsit untuk menulis Bohemian Rhapsody, atau tentang perjalanan Freddie menemukan bahwa ia ternyata biseksual.


Mungkin benar kalau sebaiknya judulnya jangan Bohemian Rhapsody tapi Freddie Mercury saja. Rami Malek yang saya lihat di Bohemian Rhapsody sangat berbeda dengan Rami yang biasa saya lihat di film-film sebelumnya. Kalau gelaran Oscar diadakan sekarang, saya sangat berharap Rami Malek bisa menang untuk kategori aktor terbaik.

Harus nonton Bohemian Rhapsody atau enggak?

Terlepas dari kontroversi dan berbagai polemik yang ada di film ini, saya sarankan kamu untuk nonton film ini. Gak perlu jadi fans berat Queen untuk nonton Bohemian Rhapsody. Yang gak tau lagu-lagunya Queen pun boleh kok nonton Bohemian Rhapsody. Gak tiap hari lho kamu boleh tepuk tangan dan menghentakkan kaki ala We Will Rock You di bioskop...













Cahaya Dari Orchestra Night With Glenn Fredly

Glenn Fredly adalah salah satu musisi Indonesia yang livenya saya suka banget. Selain sangat humble, dia juga bisa menghidupkan suasana. Dia punya cerita atau gimmick-gimmick menarik yang membuat penonton bisa sangat dekat dengan dia dan panggungnya. Maka ketika lihat poster bahwa Glenn Fredly & The Bakuucakar (band pengiringnya sekarang) akan manggung di Malang dengan orkestra, saya merasa harus nonton.

Ternyata, acara yang bertajuk Orchestra Night with Glenn Fredly ini merupakan rangkaian dari ultah Opus 275, sebuah organisasi buat pecinta musik milik UM. Jadi sebelum Glenn tampil ada penampilan dari temen-temen Opus 275 yang gak kalah keren.

Tapi di sini saya gak akan nulis banyak tentang acara Opus 275, langsung ke Glenn Fredlynya aja ya?.
Iya.

Setelah jeda lumayan lama dari penampilan 5Art Orchestra, para anggota orkestra kembali naik panggung ke posisinya masing-masing. Emsi kembali muncul dan memanggil satu persatu personel The Bakuucakar. Penonton yang lama menunggu malah menyoraki "Huuu" ketika Nicky Manuputty dan teman-teman mulai naik panggung. Sebaliknya, saya sih malak bersorak bahagia. Lha kan ini berarti artisnya mo tampil, hehehe. Baru ketika Glenn Fredly naik panggung, histeria penonton makin menggila dan kebetean setelah lama nunggu di awal acara tadi mulai mereda.

Orchestra Night with Glenn Fredly


Selesai membawakan lagu pertama, Glenn mulai sedikit ngobrol dengan penonton. Entah brief dari mana, penonton di kelas tribun atas mulai turun bergabung dengan kami yang ada di bawah. Glenn pun menghentikan ceritanya sejenak, menunggu semua penonton dapet duduk enak supaya lebih nyaman ngobrolnya. Baik ya Glenn, hehehe....

Mohon maaf saya lupa Glenn cerita apa aja. Yang jelas dia ikut senang melihat di Malang ada kelompok orkestra yang bisa bikin acara seperti ini (orchestra night). Dia terus berharap bahwa di kota-kota lain ada kegiatan serupa, dan kalau pun ada, dia akan sangat senang sekali untuk ikut kerja sama. Lalu lagu Akhir Cerita Cinta dibawakan dengan versi full choir. Asli keren bangeeet. Ada tuh cuplikannya di IG saya, hihihi.

Kemudian lagu-lagu andalan lainnya dibawakan seperti My Everything, Habis, dan Kisah Yang Salah. Setelah itu timeline beranjak ke Glenn Fredly di era yang lebih baru. Ada Surat Dari Praha yang dibawakan secara orkestra dan itu bagus banget aransemennya. Beneran. Gak bohong. Rasanya Glenn beneran naik kelas lewat lagu dan aransemen kayak gini. Indah dan menghanyutkan. Udah nonton filmnya belum? Tonton deh kalau belum.

Lalu Glenn cerita lagi tentang debutnya sebagai produser Cahaya dari Timur. Ia menyebut kalau film ini debut bagi beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Salah satunya, Chicco Jerikho. Chicco yang selama ini dikenal sebagai artis sinetron strippingan, memberanikan diri casting sebagai pelatih sepak bola Maluku. Surprise surprise, tiba-tiba Glenn menghadirkan Chicco Jerikho di atas panggung. Kok ya pas kebetulan Chicco juga lagi ada acara di Malang.

Tiba-tiba ada Chicco Jerikho!
Lewat penuturan Chicco, dia mengaku bahwa hasil castingnya untuk film ini gak bagus. Trus kenapa Glenn sebagai produser dan Angga Sasongko sebagai sutradara berani milih Chicco buat jadi pemain utama di Cahaya Dari Timur? Jawabannya simpel: karena Chicco janji dia akan memberikan penampilan yang berbeda dari Chicco yang tukang stripping sinetron. Filmnya sendiri sempat molor selama empat tahun karena terkendala dana, tapi Angga dan Glenn sepakat bahwa mereka gak bisa berhenti sampai di situ. Filmnya harus jadi.

Hasilnya? Cahaya Dari Timur menang Film Terbaik Piala Citra tahun 2014 dan Chicco Jerikho terpilih sebagai Aktor Utama Tebaik Piala Citra 2014.

Ngelihat ini, saya merasa Glenn seolah mengingatkan kalau kita berkarya dengan tulus, kerja keras dan hati yang baik, maka hasilnya pasti juga baik.

Sebuah nasihat yang sering terdengar dari siapa saja dan terkesan standar, tapi malam itu saya bisa melihat Glenn, Chicco dan The Bakuucakar sedang membuktikan ucapan Glenn. Pencapaian mereka dan apa yang membuat mereka bisa di titik sekarang adalah ketulusan, kecintaan dan keyakinan mereka pada karyanya apa pun halangannya.

Selanjutnya yang terbaru dari Glenn Fredly dan Chicco adalah Filosofi Kopi 2 yang rencananya akan tayang pertengahan Juli 2017. Mereka menjanjikan sesuatu yang lebih keren dan menyenangkan. Sedikit bocoran, Chicco akan nyanyi di Filosofi Kopi 2. Menurut pengakuan Chicco, dia sebenernya gak bisa nyanyi tapi karena dukungan dari Glenn Fredly, Chicco akhirnya menyanggupi tantangan tersebut. Apakah hasilnya akan bagus? Kita lihat saja nanti. Sekadar mengingatkan, Chicco adalah pekerja keras dan main sikat aja sama yang namanya tantangan. So i guess Filosofi Kopi 2 is worth to wait.

Keseruan malam ini ditutup dengan sebuah penampilan encore dari Glenn Fredly dan para penari api lewat lagu Hikayat Cinta. Kebayang gak lagu dangdut tapi aransemennya orkestra ditemani dengan tarian api-api gitu? Formula agak ajaib memang, tapi nyatanya bisa bikin semua penonton ikut nyanyi dan goyang. It was very fun. Pulangnya, sempat tergoda untuk nungguin Glenn Fredly muncul untuk minta tanda tangan di DVD Live in Lokananta. Cuma karena sepertinya akan lama banget jadinya lebih baik pulang saja.

Thank you Glenn Fredly, The Bakuucakar dan Chicco Jerikho, aku pulang dengan pencerahan dan bahagia. Sampai jumpa di karya-karya selanjutnya :*











Di Balik Lagu Joan Baez - Here's To You

Currently listening Joan Baez - Here's To You on repeat. Ini lagunya kalo mau ikut dengerin:



Lagu ini sebenernya soundtrack film Sacco e Vanzetti, film yang disutradarai oleh Giuliano Montaldo dan rilis sekitar tahun 1971. Diangkat dari kisah nyata dua anarkis Italia, Nicola Sacco dan Bartolomeo Vanzetti, yang dihukum mati oleh Pengadilan Massachussets atas tuduhan pembunuhan dan perampokan.

Kasus Sacco dan Vanzetti yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik dan pedagang ikan keliling ini jadi sorotan internasional karena selain proses persidangannya cukup panjang, pengadilan berkali-kali menolak banding, dan Sacco-Vanzetti pun menolak grasi. Menurut mereka, menerima grasi berarti mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan.

Kenyataannya, di tahun 1970-an, empat puluh tahun setelah mereka dihukum mati, pemerintah Amerika terbukti salah menjatuhkan vonis. Barang bukti berupa pistol dan peluru yang dicari polisi ternyata berbeda dengan pistol milik Sacco dan Vanzetti. Sejarawan Howard Zinn mencatat mereka berdua dijatuhi hukuman mati hanya karena mereka anarkis dan warga negara asing.

Lirik lagu Here's To You ditulis Joan Baez sedangkan musiknya diaransemen oleh komposer hebat Ennio Morricone. Liriknya cuma 4 baris dengan baris terakhir diambil dari statement terakhir Vanzetti pada wartawan, tiga bulan sebelum eksekusi dijalankan. Lagu sekian menit ini isinya cuma 4 baris ini aja diulang-ulang:

Here's to you, Nicola and Bart
Rest forever here in our hearts
The last and final moment is yours
That agony is your triumph


Selain jadi soundtrack Sacco e Vanzetti, lagu ini juga muncul di film The Life Aquatic with Steve Zissou garapan Wes Anderson, dan di game Metal Gear Solid 4 dan 5. Hail Hideo Kojima!.

As for me, di luar cerita kalo lagu ini ternyata lagu tribute, mungkin saya suka lagu ini karena lagunya folk. Atau mungkin karena jarang-jarang ada folk tapi aransemen orkestra. Atau mungkin ya gak aada alasan khusus. Dengerin, suka, trus nempel terus berhari-hari.

Kamu sendiri gimana, lagi suka lagu apa?.

Mom Knows Best

(Playing Christina Perri - Distance on repeat)

Mom (M): "What is it?"
Daughter (D) : "W..what?"
M : "You. And the song"
D : "Oh nothing. This song just get stuck in my head lately"
M : "Oooh..." (unsure)
D : "Should i turn off the repeat button?"
M : "No it's ok, take your time..."



Tumpah Ruah Rasa di #Tribute2ERK

Jumat adalah saatnya mengganti playlist saat kerja dengan lagu-lagu yang lebih santai. Pagi ini, di saat saya masih bingung akan mendengarkan lagu apa, akun Twitter Efek Rumah Kaca menginfokan hal menarik: 14 lagu dari 14 partisipan terpilih dalam event #Tribute2ERK sudah dikompilasi dan bisa didownload gratis di . Reaksi pertama saya: "Wow keren... langsung download ah". Reaksi kedua saya: "#Tribute2ERK ini apaan?".

Jadi ternyata kemarin Ripstore.Asia dan Creative Common Indonesia bikin gerakan #Tribute2ERK: Cover Song Challenge. Kita bikin lagu cover ERK, trus kirim ke mereka, nanti berdasarkan penilaian juri dan voting akan dipilih 14 lagu yang akan dikompilasi dalam satu album. Album tersebut akan dirilis dan disebarkan secara digital pada tanggal 14 Juli, bertepatan dengan #NetLabelDay. Terus terang kemarin-kemarin sih saya ga tau kalau ada event ini, tau-tau udah rilis aja, hehehe.
Foto: Twitter.com/efekrumahkaca
 



Serunya event seperti ini adalah semua golongan bisa ikut, mulai dari musician bedroom sampai selevel Puti Chitara juga bisa ikut. Ada Christabel Annora (Ista), musisi lokal asal Malang juga alhamdulillah kepilih lewat lagu Desember-nya. Lagu Desember versi Ista ini juga bisa didengarkan di album solo perdananya, Talking Days. (Nanti saya review albumnya Ista di blog ini juga deh).

Eh tapi lagu Desember di album ini gak cuma punya Ista aja, ada lagi lagu Desember dengan versi yang lain, dibawakan oleh Tashoora. Punya Tashoora ini lebih light dan swing. Gemes dengerinnya :D. Track list selengkapnya bisa diliat di sini:


Dari 14 lagu ini saya bilang kalau semuanya enak-enak, kecuali Di Udara. Saya belum pernah dengar lagu-lagu Karnivulgar yang lain, tapi Di Udara milik mereka ini saya cuma bisa menangkap 'noise'nya aja. Tapi saya gak bilang konsep lagu seperti ini jelek ya, tetep aja ini aransemen yang kreatif. Sayangnya saya jadi gak dapet feel keberanian dan ketegasan seperti nilai yang terasa di versi aslinya.

Laki-Laki Pemalu dari Salma Nurul & Muhammad Ilham jadi versi folk yang lucu banget. Sedangkan kalau versi LastElise jadi agak alternative rock gitu. Trus kamu pernah ngebayangin lagu ERK jadi keroncong ga? Ternyata keren lho. Di album ini ada Cinta Melulu dari O.K Bro dan Menjadi Indonesia dari Hamzah Bagja Kusuma. Dengerinnya jadi berasa adem.

Sebelah Mata jadi lebih danceable dan kekinian (ini EDM gak sih?). Jalang jadi lebih eksperimental. Mosi Tidak Percaya jadi lebih cadas dan lebih marah-marah. Cipta Bisa Dipasarkan jadi Puti Chitara banget. Jangan Bakar Buku jadi lebih progresif tapi playful, sedangkan Kamar Gelap lebih electropop kayak Portishead gitu. 
 
Salah satu lagu favorit saya, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, meskipun gak terlalu banyak berubah dari versi aslinya tapi karakter vokal Fiersa Besari yang agak serak ini memberi suasana berbeda. Overall, ini album yang segar dan kayaknya asyik untuk didengarkan di hari Jumat atau buat menemani nyetir di jalan.

Jikalau sampai kamu membaca kalimat ini dan kamu belum download juga, wah ngapain aja dari tadi? Kan sudah dikasihin linknya di atas. Mendingan kamu buruan download lagu mereka di sini :

#HappyFriday
#FreeDownloadFriday






(Best) Funeral Song

Tiba-tiba keinget lagu Switchfoot yang Yesterday. Menurutku, ini salah satu funeral song terbaik. Gak menye-menye tapi tetep bikin nangis kalo didengerin berkali-kali.

Trus aku baru nyadar kalo lagu ini pas banget buat menggambarkan suasana hari-hari terakhir saya sama @ripcu. Pagi itu kami cuma berdua di rumah sakit, nggak ada tanda apa-apa, lalu dia pergi dengan tenang. Bahkan saya nggak denger nafas terakhirnya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

I'm alone for our last goodbye
But you're free...


Rest in peace, @ripcu. Pergilah dengan tenang. You're free now. Sorry kalo sesekali masih mellow. Malam ini sudah mulai tarawih, besok insya Allah sudah mulai puasa. Kami insya Allah akan selalu mendoakanmu. Yang tenang di sana ya Pak.


***

Switchfoot - Yesterday

Flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you're free

The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
I'm alone for our last goodbye
But you're free

I remember you like yesterday, yesterday
I still can't believe you're gone, oh...
I remember you like yesterday, yesterday
And until I'm with you, I'll carry on


Lagu Apa Yang Akan Kamu Nyanyikan Sampai Tua Nanti?

Keluarga saya yang dari Solo ini suka banget nyanyi-nyanyi. Setiap ada acara kumpul-kumpul, pasti ada aja yang ngajakin nyanyi. Waktu saya kecil, acara ngumpul lebaran jadi salah satu acara yang ditunggu oleh papa, pakde dan om-om saya karena pasti mereka udah pada siap buat nyanyi bareng. Seringnya papa saya kebagian tugas ngiringin pake keyboard, trus yang lain pada nyanyi. Pernah tuh sampai dimarahin Yangti karena begadangan sampe jam 3 pagi, isinya cuma nyanyi dan maen kartu.

Setelah papa saya meninggal 2003 lalu, tradisinya jadi berubah. Yang bawa keyboard plus ngiringin sudah bukan papa, tapi gantian para sepupu saya. Sayangnya tradisi ini lama kelamaan luntur seiring dengan perkembangan generasi kami ini yang berkembang biak dan makin rempong kalau harus bawa keyboard di saat mudik. Tapi tentu saja om-tante-pakde-bude saya tetap menyanyi, apa pun acaranya, as long as we're happy.

Weekend kemarin, saya, Mama dan Dek Sam berangkat ke Solo untuk acara keluarga. Dan seperti biasa, begitu acara inti selesai, om-tante-pakde-bude sudah siap antre untuk nyanyi. Malah mereka lebih mentingin nyanyi daripada antri makanan (maaf kalau beda prioritas dengan saya).

Yang menarik adalah pilihan lagu mereka tetap sama. Ada Autumn Leaves, trus lagu Benyamin Sueb yang Malam Minggu, dan lain-lain. Itu adalah lagu-lagu andalan yang selalu mereka nyanyikan di setiap acara. Kebayang gak sih, dari mulai lagunya dirilis sampai puluhan tahun berikutnya, mereka ga pernah bosen dengerin dan nyanyi lagu-lagu tersebut.

Trus saya jadi mikir... Ada gak lagu jaman sekarang yang kualitasnya sama kayak lagu-lagu 'evergreen' itu?. Ya memang feelnya beda banget antara lagu-lagunya Everly Brothers, Carpenters, Beatles, Bee Gees, Simon & Garfunkel jika dibandingkan dengan musik-musik 90an. Tapi sebenernya lagu-lagu 90an juga menurut saya legend karena saya tumbuh bersama lagu-lagu tersebut. Tapi ada hal lain yang membuat musik-musik di tahun sebelum saya lahir itu punya kekuatannya sendiri.

Kalau saya disuruh milih lagu apa yang ga akan bosen-bosen saya dengerin, saya milih lagu yang ngingetin ke masa kecil saya seperti Richard Cocciante - Just For You (ini lagu bagus tapi kesannya jadi sedih banget anjir), Bee Gees - Spicks and Specks, atau kalau ke yang agak masa kini ya Iwan Fals - Yang Terlupakan, Natasha Bedingfield - Somewhere Only We Know (Keane cover), Time After Time, semacam itu.

Nah tapi kalau disuruh nyanyiin.. mm... ga tau juga.

Kalau kamu, lagu apa yang akan kamu nyanyikan sampai kamu tua nanti?.




Setengah Folk di Folk Music Festival 2016

Malem Minggu kemarin saya mencoba nonton Folk Music Festival yang diadakan di Lembah Dieng. Memang sejak dengar kabar kalau acara ini bakal diadakan di Malang, saya langsung cari info tentang acara ini sebanyak-banyaknya. Acara skala nasional men!. After tastenya kudunya sih mirip-mirip nonton Soundrenaline di kotamu sendiri, hehehe... Asyik kan?.

Setelah nama-nama pengisi acara diumumkan, saya jadi mikir.. "lah kok artisnya banyak yang ga folk?". Coba simak rundown berikut ini:

IG: folkmusicfestival  

Yang genre folk ditaruh di awal-awal aja, hehee.. Setelah WSATCC itu yang folk palingan cuma Tigapagi sama mm... Liyana Fizi?. Entahlah. Serupa dengan Java Jazz yang pengisi acara hanya beberapa nama saja yang memang musisi jazz, saya pikir hal yang sama terjadi juga di Folk Music Festival ini. Bisa dimaklumi lah. Atau mungkin sekarang pertimbangan memilih pengisi acara sudah tidak terlalu perlu dikaitkan dengan konsep acara?. But it's okaaay..... Sebagai penyuka hiburan murah meriah, saya senang-senang saja bisa nonton Liyana Fizi, Danilla, Mocca dan Float, hanya dengan merogoh kocek Rp 40-50 ribu saja.

Lalu tibalah hari H. Seorang teman, @dewinthemorning, sudah mengingatkan saya sejak pagi untuk datang lebih awal, karena takutnya nanti susah masuk ke TKP. Ya sebenernya itu ide bagus sih. Tapi waktu itu saya belum bisa ninggal Dek Sam, jadi saya pikir saya berangkat agak maleman aja gpp deh.

Dan ternyata saya salah. Malam Minggu, saya sudah mulai kena macet dari perempatan Dieng Plaza. Mungkin juga karena bertepatan dengan gegap gempita Starbucks yang baru buka di Malang City Point di sekitaran Dieng. Itu baru di area jalan besar Dieng. Belum lagi di jalan masuk ke Lembah Dieng. Rata-rata mobil yang barengan saya adalah plat W, L, ada juga beberapa plat AB. Saya lupa kalau acara ini adalah skala nasional. Dan benar saja, sekitar 500 meter sebelum Lembah Dieng, sudah mulai berjajar parkiran mobil yang itu artinya parkirannya udah rame banget Cing!. Jajaran parkiran itu ternyata berlanjut sampai hampir gerbang masuk Villa Bukit Tidar. Setelah puter-puter 3 kali dan gak dapet parkir juga, saya akhirnya ngikut mobil-mobil di depan saya yang nekat aja parkir di depan rumah orang meskipun suasanaya gelap banget dan jauh dari pengawasan pak penjaga parkir.

Setelah dapat parkir, mas-mas yang parkir di depan saya tadi ternyata nungguin saya untuk masuk ke Lembah Dieng. Mereka adalah rombongan anak-anak Jakarta yang kuliah di Surabaya dan baru pertama kali ke Lembah Dieng demi menonton Liyana Fizi dan Danilla. Jadi ya sudah kita rame-rame jalan dari parkiran ke tkp. Di tengah jalan, mereka berkali-kali nanya, bener gak sih ini tempatnya... karena menurut mereka ini tempatnya sangat gak biasa untuk ukuran sebuah konser, hahaha. Bagi yang tidak tinggal di Malang dan belum mengenal Lembah Dieng, memang tempat ini agak apa ya.. butuh effort untuk masuk, apalagi kalau ngana parkirnya di luar seperti kami tadi. Harus jalan jauh, naik dan turun lembah, sama seperti namanya. Untungnya karena jalan rame-rame, jadi capeknya gak terlalu berasa.

Dan begitu kami dapat tempat duduk, saya harus mengoreksi kalimat saya barusan. Ngos-ngosan bok!. Setelah duduk, saya rasanya pengen nunduk dan tiduran sambil ngatur nafas. Bahkan ketika rombongan Surabaya tadi nanya, "Ini siapa yang lagi maen?". Saya cuma jawab singkat "Ista". Lalu mereka kembali ngobrol dengan wajah agak bingung. Setelah ga terlalu ngos-ngosan baru saya jelaskan bahwa Ista adalah Christabel Annora, musisi Malang yang kebetulan baru saja merilis album beberapa hari lalu. Ternyata beberapa di antara mereka juga ada yang pernah nonton Ista di sebuah acara di Surabaya, cuma mereka lupa namanya.

Lalu setelahnya.. saya menikmati acara. Especially Danilla dan Float. Danilla ini menggemaskan sekali di atas panggung. Sementara Float.. Cukup memuaskan setelah mereka tampil mengecewakan setahun lalu.

Overall acaranya cukup memuaskan sih. I wish I came earlier, jadi bisa nonton AriReda, Silampukau, dan menyapa teman-teman yang bahkan saya ga ketemu saat bubaran. Next time kalau ada acara di Lembah Dieng lagi saya janji akan datang lebih awal demi lokasi parkiran yang ga bikin ngos-ngosan.

Sampai jumpa di gigs berikutnya!.






Kenapa Suara Lainnya?

Dulu saya termasuk sebagian orang yang beranggapan kalau lagu-lagu Peterpan hanya bagus kalau dibawakan oleh Peterpan saja. Bahkan ketika idola saya yang lain, Iwan Fals, berduet dengan Ariel, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Acara Harmoni di SCTV pernah membuat satu episode khusus yang membawakan lagu-lagu Peterpan, tapi menurut saya tidak ada yang menarik.

Sampai akhirnya saya nonton Grand Final Indonesian Idol di Youtube. Waktu itu Sean featuring Peterpan-tanpa-Ariel menyanyikan lagu Cobalah Mengerti. And i was speechless,.. lagunya jadi bagus banget..

Terus terang lagu Cobalah Mengerti ini bukan favorit saya. Tapi sejak denger versi Sean, lagu ini nempel terus di kepala :D.



Belakangan saya baru tau kalo lagu ini ada di album Suara Lainnya, album instrumen Peterpan. Album ini isinya lagu-lagu lama Peterpan yang diaransemen ulang dan semuannya keren. Ada suara suling yang menghanyutkan di lagu Sahabat, suara biola yang menyayat di Taman Langit dan lagu Walau Habis Terang berubah jadi versi bosas. Lagu Cobalah Mengerti yang dinyanyiin Momo Geisha juga kedengeran jadi lebih megah tapi tetep berasa mellow-nya.

Satu lagi yang beda dari album ini adalah suara pianonya lebih dominan. Mungkin itu juga salah satu alasannya kenapa cover albumnya ada gambar piano. Selain lagu Peterpan yang diaransemen ulang, ada satu lagu baru yang dinyanyiin Ariel judulnya Dara. Sepertinya lagu ini dimasukkan buat obat kangen sama suaranya mas vokalis. Atau, jadi penanda comeback-nya Ariel.

Suara Lainnya adalah cara Ariel dan kawan-kawan untuk menunjukkan bahwa lagu-lagu Peterpan masih bisa dinikmati walaupun tanpa suara Ariel dan Peterpan bisa mengeksplor musiknya jadi sesuatu yang baru dan menyenangkan untuk didengar.

 Jadi album ini wajib beli? Enggak juga. Tapi kamu wajib denger..

By the way, ini cdnya minjem punya mas @ripcu. Dia punya banyak koleksi cd-cd ajaib, nanti kalo pengen pinjem, mention aja di twitternya :D. Terima kasih pinjeman CDnya, mas @ripcu :).

DREW - Penantian belum berakhir

Jadi pemirsa, setelah postingan tentang DREW yang ini, akhirnya minggu kemarin video klipnya dirilis juga. Entah ada apa dengan DREW, sampai-sampai rasanya semua rilisannya serba lama. Ini syutingnya udah dari beberapa bulan lalu kalo gak salah, tapi baru rilis bulan ini. Sudah nonton belum videonya? cekidot di sini ya:
Drew - Radio (Official Video)
Menyesuaikan dengan judul lagunya, talentnya pake penyiar-penyiar radio kondang seJakarta. Dan mungkin karena instagram lagu ngetren, warna yang dipilih juga warna-warna hipstamatic. Saya sih sebenarnya berharap tone colornya lebih tajem, soalnya bosen juga dimana-mana yang diliat warnanya bluwek gitu, hehe.. tapi ya sudalah tak papa, toh hasilnya bagus.

Di channel Youtube itu juga ada yang komentar gak sabar nungguin albumnya Drew, takut keburu basi, katanya. Oh dude, you're not alone. Dengan rilisnya video klip Radio, apa berarti albumnya akan segera rilis juga?. Biasanya sih begitu, tapi ternyata enggak, sodara-sodara... Kemungkinan albumnya dirilis Oktober-November, setelah itu baru video klip kedua, High, yang juga udah selesai syuting kapan itu.

Lama ya? sabar aja lah...

Adele - Someone Like You

Suatu malam, waktu lagi sibuk ngetik-ngetik ditemani streaming salah satu acara radio di Jakarta, tiba-tiba radionya muterin Adele - Someone Like You. Sebelumnya sudah sering denger lagu ini tapi baru saat itu saya merhatiin liriknya. Selain liriknya memancing kegalauan buat sebagian orang, ternyata liriknya sangat sinematik, jadi gampang kalau mau divisualisasikan. Baru dengar sebait lagunya, di kepala saya udah ngebayangin adegan buat video klipnya kaya gimana, atau kalau bukan buat video klip, mungkin buat backsound di salah satu serial tv. Percaya deh, ini lagu kalo didukung dengan visualisasi yang pas di suatu film, pasti akan jadi salah satu the most unforgettable scene you've ever watched, hohoho...



Ini videonya waktu di BRIT Awards, dimana Adele tidak terlihat seperti gadis berusia 23 tahun



Never mind,
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead"
(Adele - Someone Like You)

Nitip albumnya Yuna Zarai dong..

Sejak postingan saya yang ini, sampai sekarang belum nemu juga albumnya Yuna Zarai yang Decorate. Apalagi EPnya. Di Malang sejauh ini nggak ada. Belum nyari di Surabaya/Jakarta sih..

Jadi kalau ada yang lagi jalan-jalan ke toko cd trus nemu albumnya Yuna Zarai, nitip dong... atau mungkin yang lagi maen-maen ke Singapura/Malaysia, mampirlah ke toko cd buat beli album ini. Percayalah, album ini keren.. :D *maksa*

Karena belum punya albumnya, sementara saya youtubing dulu. Ini salah satunya yang dari tadi saya dengerin berulang kali, videonya waktu live di Chicago : Deeper Conversation, Someone Out Of Town.

Ah Yuna,.. I wish i had your talent...

Konsistensi Gigi di usia 17


Kabar terbaru dari Gigi, saat ini mereka sedang mempersiapkan sebuah konser di bulan Mei sebagai puncak perayaan ulang tahun Gigi ke 17 tahun setelah sebelumnya pada 22 Maret merilis album bertajuk "Sweet 17".

Album dan konser "Sweet 17" adalah bentuk konsistensi Gigi di dunia musik. Disiplin berkarya setiap tahun dengan musik yang tetap mengikuti perkembangan jaman namun tidak terjebak tren, membuat karakter musik Gigi semakin kuat. Karakter tersebut sangat terasa dalam album yang turut dibantu Rekti The S.I.G.I.T ini.

Lagu "Sahabat" yang bercerita tentang persahabatan Gigi tepat diletakkan sebagai lagu pembuka. Isian gitar dan tema lagu pada "Distorsi Manusia" sedikit mengingatkan saya pada "Bumi Meringis". Sama halnya dengan "Bye Bye" yang meninggalkan kesan yang sama bagi saya dengan "Nakal" di album Peace, Love 'N Respect.

Sebuah lagu yang dipersembahkan bagi penggemar sepak bola berjudul Garuda Fights Back dengan cerdik menyisipkan chant yang cukup familiar: "Yo ayo, ayo Indonesia.. kuingin kita harus menang.. "

Selebihnya, cinta dan wanita masih menjadi inspirasi utama lagu-lagu di album ini. Untuk hits berikutnya saya menjagokan "Mana Hati".

Merasa cover albumnya mirip poster Star Wars III? memang desainernya sama :D

-----
Nambahin dikit, yang gak sempet nonton Gigi di Java Jazz kemarin bisa nonton di Youtube : Melayang, Terbang, Ya Ya Ya, Distorsi Manusia

Another Youtube Star

Kita bisa nemu apa aja di Youtube. Cheat game, resep, tutorial ini-itu, film pendek, konser, iklan dan sebagainya. Mulai dari video serius, parodi, sampai video iseng-iseng. Kalo kemarin-kemarin ada Sinta & Jojo, lagu tentang Gayus Tambunan, Nurdin Halid, trus Udin Sedunia yang populer karena Youtube, sekarang giliran video Briptu Norman Kamaru (mudah-mudahan bener nulis nama dan pangkatnya) yang nyanyi lipsync plus joget-joget lagu India - Chaiya Chaiya. Bagi yang belum nonton videonya bisa lihat di sini :D

Lucu yak? =))

Sayangnya aksi kocak Briptu Norman ini dianggap tidak etis oleh Polda Gorontalo karena Briptu Norman sedang dalam masa tugas tapi malah joget-joget. Jadi mikir, kalo yang punya rekening gendut atau yang suka nilep duit tilang itu etis nggak pak? *uhuk*. Kalau memag nanti Briptu Norman dikenai sanksi, semoga sanksinya nggak mengada-ada. Jangan buat dia kapok untuk bikin video lipsync selanjutnya.

Sebenernya postingan ini bukan ditulis khusus dalam rangka Briptu Norman, tapi juga another-Youtube-star-versi-saya, yaitu..... yaitu...... Eva Celia Lesmana!. Yap, anaknya Indra Lesmana - Sophia Latjuba yang sekarang udah gede itu. Lupa dapet linknya dari mana, kalo nggak salah dari twitternya Gamaliel Tapiheru.

Sila disimak bagaimana Eva Celia nyanyi God Bless The Child diiringi ayahnya, Indra Lesmana, atau bersama teman-temannya (Leo & Red) bawain Black & Gold versi akustik (Sam Sparro cover), Neon (John Mayer cover) dan Forever Young (Alphaville cover). Bandnya oke, dan Eva Celia juga bisa nyanyi. Bahkan di lagu Black & Gold, saya bisa bilang saya lebih suka versi Leo-Eva-Red daripada versi aslinya maupun versi Katy Perry. Ada lagi yang lebih mantaps : Eva Celia nyanyiin God Bless The Child sambil diiringi piano oleh Indra Lesmana, a-ma-zing!. Kayaknya boleh juga kalo dia mau ngeluarin album atau single.


Jadi kesimpulannya, jika anda merasa dunia perlu tau bakat yang anda punya, silakan diaplod videonya ke Youtube kemudian sebarkan lewat forum atau jejaring sosial. Soon, you're gonna be a Youtube Star or at least you have your minutes of fame. Time to thank Youtube! ;).

I think i love Carla Bruni

source : here
Iya Carla Bruni yang Ibu Negara Perancis itu,
yang dulunya model..

Entah karena suaranya, aransemennya, atau lirik berbahasa Perancis-yang menurut beberapa orang terdengar seksi-, acara nulis-nulis bego ditemani teh anget plus cemilan ketika hujan sore ini rasanya cocok juga kalau sambil mendengarkan Carla Bruni.

Dibandingkan dengan album akustik Sabrina yang mengcover lagu-lagu hits (berbahasa Inggris), ternyata saya lebih menikmati album Carla Bruni walaupun saya tidak paham artinya dan tidak bisa ikut nyanyi.

Kalau sudah nonton 500 Days Of Summer, Carla Bruni juga ikut ngisi soundtracknya lewat lagu Quelqu'un M'a Dit. Ingat iklan Soffel yang "kulit Jeruk dan Geranium tidak disukai nyamuk"? nah itu juga lagu Carla Bruni, Le plus Beau du Quartier. Dua lagu ini diambil dari album pertamanya, Quelqu'un M'a Dit, tahun 2003 lalu. Sampai sekarang Carla Bruni sudah mengeluarkan 3 album (terakhir tahun 2008) dan semuanya menurut saya cukup easy listening.

Bagi yang masih tidak percaya Carla Bruni bisa nyanyi, silahkan dicoba dulu kak, satu atau dua lagu. Lumayan juga buat referensi belajar bahasa Perancis :D.


Menunggu Drew bersama Drew

apa kabar kau di sana?
kuharap kau mendengar
laguku ini tentangmu
tentang perasaanku

dengar..
mendekat..
dengar..
coba kau perhatikan liriknya

ow..ow ow..ow ow..
lagu ini untukmu
ow..ow ow..ow ow..
hanya untuk dirimu
ow..ow ow..ow ow..
pahamilah maksudku
ow..ow ow..ow ow..

aku baik-baik saja
ku di sini mendengar
laguku ini tentangmu
tentang perasaanku

dengar..
mengerti..
lagu ini..
tlah kumainkan hanya untukmu

ow..ow ow..ow ow..
lagu ini untukmu
ow..ow ow..ow ow..
hanya untuk dirimu
ow..ow ow..ow ow..
pahamilah maksudku
ow..ow ow..ow ow..

dudududu..dudu...

dengar..
mendekat..
dengar..
coba kau perhatikan liriknya

ow..ow ow..ow ow..
lagu ini untukmu
ow..ow ow..ow ow..
hanya untuk dirimu
ow..ow ow..ow ow..
pahamilah maksudku
ow..ow ow..ow ow..
ku masih inginkanmu..
ow..ow ow..ow ow..



Maap kalo berisik, barusan saya nyanyiin lagunya Drew yang judulnya Radio sambil nungguin temen saya yang katanya mau ke rumah 2 jam yang lalu tapi sampai sekarang nggak dateng-dateng. Waktu nyanyi-nyanyi tadi saya jadi ingat kalau Drew katanya mau rilis album di Januari 2011 tapi sampai sekarang belum juga dirilis. Jadi sekarang saya ingat kalau saya sedang menunggu dua hal yang sama-sama tidak ada tanda kemunculannya dalam waktu dekat : teman saya dan album Drew.

Baiklah saya lanjut menyanyi saja. Selamat siang semuanya..

Yuna Zarai from Malaysia. (My) New idol?


Waktu lagi blogwalking ke blognya Diana Rikasari, nemu postingan tentang Yuna. Siapakah Yuna? Suaranya dan musiknya bagus, me likey!. Kalo Diana menyebut Yuna seperti Adele + Alanis + Lenka, kalo menurut saya cara nyanyinya lebih mirip Bjork atau Regina Spektor. Sedangkan musiknya lebih mirip ke ehm.. Lisa Loeb?.

Sempat senang karena mengira Yuna ini dari Indonesia, sekaligus merasa ketinggalan jaman kalau benar dia dari Indonesia. Karena biasanya bakat bagus cepat menyebar, sedangkan ini kok baru tahu sekarang :D. Ternyata setelah dicari-cari, Yuna ini adalah artis Malaysia, seumuran Zee Avi. Bermusik sudah sejak 2006, merilis 1 EP (Yuna) dan 1 album (Decorate), dan kemarin menang 4 kategori di Anugerah Industri Musik 2010 di Malaysia.

Silahkan bagi yang penasaran, ini ada beberapa videonya di Youtube : Sparkle, Coffee dan ini Myspacenya. Ada juga lagunya yang berbahasa Melayu, bahkan dia juga menyanyikan ulang lagu Kukatakan Dengan Indah - Peterpan :D. Coba dengarkan, and tell me what you think!


Gambar diambil dari Wiki. Yes, she's wearing hijab and together with her band they are the ambassador of Macbeth footwear in Malaysia :)

[video] Natasha Bedingfield - Touch

Natasha pergi pakai sepatu hak tinggi. Di tengah jalan kakinya terkilir, kopi yang dibawanya tumpah ke baju seorang Bapak. Si Bapak, karena bajunya ketumpahan kopi, membatalkan janji dengan seorang Pemuda yang sudah menunggu di kantornya. Di kantor, sembari menunggu, Si Pemuda menerima sebuah undangan pesta. Tadinya Pemuda ini tidak bisa hadir, tapi karena janji dengan si Bapak baru saja dibatalkan, Pemuda ini akhirnya datang ke pesta. Di situlah ia berada sekarang, di sebuah pesta, bersama Natasha (dan sepertinya mereka saling tertarik. Ihiiy :p ).




Video diculik dari Youtube, dari akun Wixoxo
soalnya dari akun officialnya ga boleh diembed.
Bonus subtitle bahasa Spanyol :D


Kurang lebih begitulah cerita di video klip Natasha Bedingfield - Touch. Dua hal yang bisa diambil dari video ini, pertama, peristiwa apes yang kita alami ujung-ujungnya bisa berakhir manis. Jadi kalo lagi kebetulan apes, ada baiknya jangan ngambek dulu. Siapa tahu apes yang tadi ternyata pintu rejeki untuk hal yang lain :). Lihat kan, akhirnya Natasha ketemu sama Pemuda ganteng itu. Kedua, ternyata pilihan sederhana dalam hidup kita punya dampak yang tidak terduga di masa depan.

Tidak percaya?

Coba tonton video ini sampai habis. Diceritain juga kalo Natasha tadi nggak milih pake high heels, tapi sandal flat. Kopi yang dibawa nggak tumpah, Pemuda tadi tidak muncul di pesta di rumah Natasha dan mereka nggak jadi ketemu. Jadi bisa dibilang kalo sebenernya insiden kopi tumpah tadi nggak sepenuhnya apes kan? :)



Every choice we make and every road we take
Every interaction, starts a chain reaction
We're not affected when we least expect it,
and then when we touched, and it all connected
(Natasha Bedingfield - Touch)

another lullaby

currently listening to :




I miss those blue eyes . How you kiss me at night
I miss the way we sleep

Like there's no sunrise . Like the taste of your smile
I miss the way we breathe

But I never told you . What I should have said
No, I never told you . I just held it in

And now, I miss everything about you
Can't believe that I still want you
And after all the things we've been through
I miss everything about you
Without you

I see your blue eyes . Everytime I close mine
You make it hard to see . Where I belong to
When I'm not around you

It's like I'm alone with me



.: adiwardhani :.