La La Land: Mimpi dan Kebesaran Hati

Kalo setelah nonton film trus besoknya masih kebayang-bayang filmnya, berarti itu film bagus. Karena kalo jelek pasti pengen ngelupain, bukan malah diinget-inget. Hehehe...

Kalo aku, salah satu film yang punya kesan kayak gitu adalah La La Land.

La La Land sudah masuk daftar wajib tonton sejak nonton trailernya, padahal ya cuma sekali aja nontonnya. Seperti yang pernah aku sebut di Twitter/Path, bahwa awalnya aku ngira aku bakalan suka film ini karena banyak hal. Bisa jadi karena ini kisah cinta-cintaan (i love it!), bisa jadi karena aku percaya chemistry Emma Stone dan Ryan Gosling, atau karena ini musikal yang soundtrack di trailernya aja sudah berasa lembut dan hangat. Itu adalah pendapat awal dengan modal cuma nonton trailer doang.


Foto: http://www.lalaland.movie

Setelah nonton filmnya ternyata....

Filmnya indah banget... opening scenenya aja bagus banget. Adegan nyanyi-nyanyi dan joget yang disyut dengan continuity di tengah kemacetan LA. Opening yang pas buat ngajak penonton masuk ke dalam film dan seolah-olah bilang:"this movie is gonna be fun!". Dan tahukah kamu kalau ini syutingnya di jalan tol beneran, bukan di studio? Sutradaranya emang ngeblok jalan tol dua hari demi adegan ini, luar biasa.

La La Land ini berkisah tentang dua orang yang tidak sengaja bertemu lalu saling bebagi mimpi dan ambisi masing-masing. They're here for each other. Ketika realita membelokkan mimpi mereka, satu sama lain kembali mengingatkan apa yang sebenarnya mereka cita-citakan. 

Foto: http://www.lalaland.movie
I love chemistry antara Ryan Gosling dan Emma Stone. Mungkin bener yang namanya film itu kayak jodoh. Emma Watson nolak film ini demi jadi Belle di Beauty And The Beast, sedangkan peran Sebastian tadinya akan diberikan ke Miles Teller. Rasanya gak apa-apa mereka gak jadi dapet peran di La La Land, karena toh Emma Watson sudah keliatan keren banget di trailer Beauty And The Beast dan Emma Stone juga cocok jadi Mia.

Sutradaranya, Damien Chazelle (Whiplash), pinter banget masukin referensi jazz di film ini tanpa keliatan seperti sedang menceramahi. Musik-musik jazz yang dimainkan juga bagus. Jazz murni, kalo istilahnya Ryan Gosling. Sempet kaget kenapa ada John Legend di sini, tapi rasanya peran itu emang cocok banget kalo John Legend yang main. You'll know why.

Selain soundtrack, tone film ini juga bagus, bikin mata betah nontonnya. Emma Stone cantik sekali meskipun dia cuma pake kemeja putih dan celemek, atau cuma pake dress dengan cutting sederhana dan warna polos. She's gold. Ditambah dengan set lokasi yang dipoles jadi indah, film ini jadi bikin pengen pergi ke tempat-tempat indah bersama pasangan.

Kudos untuk sutradara dan departemen artistiknya La La Land yang sudah membuat film ini jadi sedemikian cantiknya. Keindahan dan kehangatan La La Land membantu aku memaafkan dan menerima segala kepahitan dalam cerita. Kalau openingnya tadi bikin terpukau, 10-15 menit ending dari film ini bikin ngeremes-remes ujung baju. It's beautiful. And I keep telling to my self: It's okay, i understand. Yes, really. It's okay.

Aku kira adegan-adegan indah sepanjang film tadi akan jadi adegan terfavorit, tapi ternyata adegan terbaik justru senyuman di ending film (sorry a bit spoiler here). Dalam kehidupan nyata, butuh keberanian dan keteguhan hati untuk bisa melempar senyum semanis itu. Buktikan kalau gak percaya. Buruan ke bioskop.


Comments

Popular Posts