Pengisi Daya

Aku selalu bilang pada diriku sendiri, bahwa mencintaimu ini sebenarnya urusan mudah.  Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap berada d...

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Jadi Single Parent itu Berat, Jenderal...


Hidup itu memang sawang sinawang ya. Mulai dari urusan akademis, kelancaran finansial, hingga urusan rumah tanga.

Beberapa waktu lalu, di saat meet up hore bersama teman-teman, ada teman yang nyeletuk “Paling enak justru kamu Tid, udah pasti ga ngalamin KDRT”.

pexels.com/@burakkostak


Konteksnya saat itu ada salah satu teman yang cerita bahwa dia sudah tidak tahan dengan kondisi rumah tangganya karena KDRT. Selama 8 tahun pernikahan, baik kekerasan fisik maupun verbal sudah pernah ia alami. Konon temanku sebagai pihak perempuan sudah berencana membatalkan pernikahan, namun karena pertimbangan lain akhirnya janur kuning melengkung juga.

Temanku ini adalah dosen di salah satu kampus di Malang, sementara suaminya bekerja di sebuah bank swasta di Surabaya. Menurut cerita, keduanya hanya bertemu 2-3 kali dalam seminggu. Tentu banyak anggapan bahwa jangan-jangan jarak inilah penyebab keduanya mengalami masalah komunikasi sehingga memicu masalah-masalah lainnya.

Tapi menurut mereka tidak demikan. 3 tahun pertama pernikahan, mereka tinggal di Surabaya. Teman saya saat itu menyelesaikan studi magisternya sambil diselingi hamil dan melahirkan putra pertama mereka. Apakah saat itu pernikahannya baik-baik saja? Ternyata tidak juga (menurut teman saya). Bibit-bibit KDRT mulai tampak, namun teman saya mengabaikannya dan berfikir bahwa ini hanya fase adaptasi pengantin baru saja.

Namun teman saya ini berprinsip, bahwa 5 tahun adalah fase yang cukup untuk adaptasi sebuah pengantin baru. Jika lebih dari 5 tahun masih belum menemukan kecocokan, maka perceraian adalah opsi.

Saat itu pun saya dan teman-teman lain memberi saran: mungkin waktu adaptasimu bukan 5 tahun, tapi 7 tahun, atau mungkin 9 dan 10 tahun? Sabar dulu lah, jalani dulu. Bersabarlah lagi.

Beberapa hari setelah itu, dalam sebuah grup WhatsApp ia membagi foto memar di bagian mata dan lengan dengan caption singkat “Harus sabar ya rek?”.

Tahun berikutnya, ia memilih untuk mengambil tawaran menjadi dosen di Malang yang memang merupakan cita-citanya sejak lama. Lambat laun ia merasa bahwa menjadi dosen bukan hanya sekedar pencapaian pribadi dan bentuk terima kasih pada orang tuanya, namun pekerjaan ini juga sebagai pelarian dari kebisingan rumah tangganya.



Emang bener ya, jadi single parent lebih enak?

Fast forward ke 8 tahun pernikahan mereka, cerita yang ia bawa kemarin masih sama. Pernikahan yang menurutnya kurang bahagia dan KDRT yang masih ia rasakan meskipun sudah berjarak dengan suaminya. Teman saya pun mantap untuk berpisah dari suaminya meskipun hal ini belum ia diskusikan dengan suami dan keluarga.

Saya jadi mikirin celetukan teman saya tadi: Benarkah jadi single parent itu lebih enak, lebih bahagia?

Kalau di posisinya yang sebagai korban KDRT suami, mungkin iya.

Tapi kalau urusan membesarkan dan mendidik anak? Sejauh ini saya bisa katakan bahwa menjadi single parent itu tidak mudah.

Dalam kasus saya, anak saya laki-laki. Sederhana saja, saya khawatir tidak bisa memberi contoh figur bapak baginya. Masalahnya di rumah memang tidak ada sosok laki-laki yang bisa dijadikan contoh.

Tahun lalu, saya sempat menahan tangis ketika menjemput anak saya pulang sekolah. Wali kelasnya cerita bahwa Samirayyan yang biasanya pemalu dan irit bicara di kelas, bisa cerita mengenai pekerjaan bapaknya. Saya tidak tahu darimana ia mendapat ilham untuk bercerita bahwa bapaknya kerja di proyek, bikin bendungan dan bikin hotel. Hal-hal yang tidak pernah kami ceritakan padanya, tapi itu benar adanya.

Menurut gurunya, Sam bercerita dengan sangat lancar seperti ia memang benar-benar tahu pekerjaan mendiang bapaknya. Cerita itu diakhiri dengan: “Sekarang bapak masih meninggal, meninggalnya masih lama..”

Antara gemas dan kasihan mendengar ucapan si kecil.

Di kesempatan lain, sepulang sekolah saya pernah ditanya langsung oleh teman sekelas Rayyan: “Abinya Rayyan yang mana?” lalu saya jawab, “Abinya gak ada, sudah meninggal”. Fatin, teman sekelas Rayyan itu lalu bercerita bahwa di rumahnya ia tinggal dengan umma (ibu), abi (bapak), jiddah (nenek), jiddi (kakek), serta kakak dan adik. Kebetulan Fatin memang lahir dari keluarga besar, ia sendiri adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara.



Wajah Fatin seperti tidak percaya bahwa Rayyan hanya tinggal bertiga di rumah, bersama ibu dan neneknya. Fatin lalu bertanya hal-hal lain seperti “Sepi nggak?”, “Kamu main sama siapa di rumah?”, “Kamarnya sedikit ya?”, “Nggak bisa main zombie-zombie ya?” yang dijawab Rayyan dengan sangat santai sambil menyeruput puding sedot yang dibeli di sekolah.

Hal-hal seperti ini tentunya tidak dialami oleh keluarga yang lengkap. Tidak perlu bingung menjelaskan pada anak mengenai apa itu meninggal, apa itu kematian, meskipun memang suatu saat anak-anak perlu tahu mengenai hal tersebut.

Tidak adanya sosok ayah bagi Rayyan ini jadi pe-er tersendiri bagi saya. Misalnya, tidak ada yang mencontohkan bahwa setiap Jum’at, pria muslim memiliki kewajiban untuk sholat Jum’at sebagai pengganti sholat Dhuhur. Padahal hal-hal kecil seperti inilah yang ingin saya tanamkan padanya sejak kecil.

Saya sebenarnya beruntung punya suami yang selalu ingin berada di sisi anaknya. Suami saya yatim sejak lahir. Ayahnya meninggal sejak ia masih di dalam kandungan. Baru memiliki ayah sambung ketika ia berusia sekitar 4-5 tahun. Menurut ceritanya, ia sendiri yang meminta sosok ayah dalam kehidupannya, hingga ibu mertua saya yang kebingungan menjawab keinginan suami saya ketika kecil.

Karena itu ia punya semangat tinggi untuk selalu hadir dalam kehidupan anaknya. Ia ingin memberikan apa yang tidak bisa ia rasakan ketika kecil mengenai sosok ayah. Sayangnya, takdir berkata lain.

Saya tidak mengecilkan peran single parent hebat di belahan dunia lain. Ibu saya pun menjadi single parent ketika saya berusia 17 tahun. Saya tahu ia bekerja keras demi menyekolahkan anak-anaknya. Semua ibu yang sayang dengan anaknya saya rasa akan melakukan hal yang sama.

Saya tidak bilang bahwa anak-anak broken home atau anak yang dibesarkan oleh single parent tidak akan sukses atau sematang anak-anak dengan orang tua yang lengkap. Gak, saya gak beranggapan begitu.

Yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai pemikiran bahwa “single parent lebih enak” itu jadi bahan pertimbangan untuk bercerai. Jangan gampang mengajukan cerai. Memang gak gampang bertahan dalam kondisi rumah tangga yang gak sehat, apalagi kalau sudah punya anak. Tapi bukan berarti berpisah itu solusi efektif.



Seenak-enaknya jadi orang tua tunggal, masih lebih enak punya teman diskusi untuk diajak ngobrol soal berbagai macam hal mulai dari urusan rumah tangga, sekolah anak, belanja sehari-hari, sampai hal remeh temeh lainnnya.

Seringnya, alasan yang yang dikemukakan saat bercerai adalah demi masa depan dan kebahagiaan anak. Padahal sebenarnya, demi kenyamanan dan kemerdekaan pribadi. Yang kayak begini ya banyak juga memang, meskipun saya juga tidak menyalahkan alasan tersebut.

Trus gimana, kalau udah KDRT masa ga boleh cerai?

Ya boleh aja. Kalau saya ngalamin KDRT juga bukan gak mungkin saya kepikiran untuk bercerai. Tapi saya mau mengingatkan kalau jadi single parent itu berat, Jenderal. Perlu diingat kalau sekesal-kesalnya kamu pada suamimu, ia masih berhak atas anakmu. Anakmu punya hak untuk menghabiskan waktu, belajar dan menghabiskan waktu bersama ayahnya. Jadi nanti kalau sudah berpisah, jangan lupa untuk mengasuh anak bersama-sama.

Mungkin sulit atau berat, ya tapi kan gak ada yang gak mungkin.








Cobalah Untuk Lebih Sabar

Tulisan kali ini adalah tulisan dari sudut pandangku sebagai ibu. Halo ibuk-ibuk yang anaknya susah makan mana suaranya?.

Sebagai ibu, rasanya pasti gemes ngeliat anaknya susah makan. Sudah disiapkan menu spesial, tapi si anak gak mau makan. Malah lebih tertarik bermain ataupun makan kerupuk. Kalo makan kerupuk doang gizinya dari mana nak? Hiks.

"Coba nasinya dikasih kerupuk". Of course i did. Kalo Dek Sam lagi makan emang kadang ditambahin kerupuk biar dia mau makan. But you know anak-anak itu tidak bisa diakali gitu saja. Yang dimakan tetep kerupuknya aja. Nasi dan lauk? Gak selalu mau.

"Coba dimasakin menu kesukaannya". Ini memang trik yang sering manjur. Tapi ya gak selalu juga. Gimana kalau udah dimasakin menu kesukaannya, Dek Sam tetep gak mau makan?. Dan saya juga tipe orang tua yang mengajarkan anak untuk makan apa yang ada di rumah. Jadi apa yang ada disiapkan di meja makan ya itu yang akan kita makan. Bukan berarti ga boleh jajan di luar sih. Cuma saya pengen mengajarkan anak tentang mensyukuri apa yang ada. 

"Coba lebih sabar dan telaten". Pertama kali denger saran ini dari mama saya, saya merasa 'apakah saya selama ini tidak cukup sabar untuk menghadapi anak yang susah makan?'. Apakah ganti menu sarapan 3 kali sampai anak mau makan itu masih kurang sabar?. Apakah menyuapinya sambil ngider ke sana kemari itu masih belum benar?. Agak-agak gimana gitu juga sebenernya dibilang begitu. Tau kan rasanya ketika kita merasa sudah memberikan segalanya tapi ternyata masih dianggap kurang?.

I just don't expect that feeding kids could be this frustrating :D.

Tapi kemudian saya mikir lagi: Gimana kalau memang benar saya yang kurang sabar?. Lalu saya mencoba saran mama saya. Saya melebarkan batas sabar saya ketika menyuapi Dek Sam. Saya mencoba menungguinya makan, sesuap demi sesuap. Sama aja seperti kegiatan makan di hari-hari sebelumnya, cuma kali ini saya lebih sabar.

And guess what, walaupun makannya gak lebih banyak dari biasanya, tapi Dek Sam sepertinya lebih menikmati suasana saat makan. And i guess itulah yang terpenting dari kegiatan menyuapi si kecil. Dia merasa nyaman. Ga masalah kalau dia cuma mau makan sedikit. Mungkin emang dia maunya cuma segitu?. Mungkin emang dia lagi belom mau makan sekarang?. Dan berbagai kemungkinan lainnya yang ternyata solusinya hanya butuh kesabaran dan pengertian ibunya.

Tentu saya juga ingin Dek Sam bisa disiplin soal jadwal makan. Tapi saya rasa bisa diatur pelan-pelan. There, i increase my patience.

Bagi ibu-ibu yang punya anak yang sudah mulai makan, mungkin ibu-ibu sudah sering mendengar persoalan anak yang susah makan beserta solusi lainnya. Jika ibu-ibu merasa memang sudah melakukan berbagai tips dan trik tapi hasilnya masih sama aja, mungkin kita cuma perlu lebih bersabar aja. You're not alone, moms.. *tos dulu lah kita.

Anyway, saya pikir resep coba lebih bersabar ini gak cuma berlaku untuk menghadapi anak yang susah makan, but to EVERY problems we're facing of. Dan pertanyaan ini jadi sering saya tanyakan ke diri sendiri: Sudahkah saya lebih bersabar?.

Selamat Ulang Tahun Samirayyan

Halo anakku tersayang Samirayyan..

Selamat ulang tahun yang kedua ya, semoga jadi anak soleh, berbakti pada orang tua dan berguna bagi orang banyak. Aamiin...

Maaf ya, suasana ulang tahun kali ini sedikit berbeda. Kalau tahun kemarin ada Bapak yang mimpin doa dan potong kue, kali ini ada Ibuk yang gantiin Bapak. Bapak sudah berpulang ke rahmatullah hari Minggu kemarin. Itu artinya Ibuk dan Dek Sam gak bisa ketemu Bapak lagi, tapi kita bisa selalu mendoakan Bapak dan meneladani semua kebaikannya.

Ibuk masih inget dua tahun lalu, 20 Maret 2014 adalah tanggal perkiraan dari dokter untuk kelahiran Dek Sam. Tapi ternyata Dek Sam masih betah di perut ibu sampai akhirnya baru lahir 5 hari kemudian, 25 Maret 2014. Hari Minggu kemarin, 20 Maret 2016, suasananya sungguh berbeda dengan dua tahun lalu. Kalau dulu harap-harap cemas menanti kontraksi, Minggu kemarin Ibuk harap-harap cemas mencari denyut nadi di pergelangan tangan Bapak, berharap denyut itu masih ada, Bapak bisa mendengar suara Ibuk lalu terbangun.

Tapi Allah berkehendak lain. Bapak berpulang dalam tidur lelapnya dengan kondisi sangat tenang. Entah kenapa Bapak harus pergi beberapa hari sebelum ulang tahunmu. Mungkin karena Bapak ingin selalu dekat dengan Dek Sam, atau mungkin Ibuk aja yang terlalu mellow sampai menghubung-hubungkan semuanya, hehe...

Dek Sam, meskipun Bapak nggak ada, tapi Bapak sayang banget sama Dek Sam. Waktu Dek Sam umur sebulan-dua bulan, Dek Sam lebih sering bisa bobok kalo digendong Bapak. Mungkin tangan Bapak lebih mantep ya buat nggendong. Dek Sam juga lebih duluan ngomong "Bapak" daripada "Ibuk". Kalo ibuk ga ada, Dek Sam gak nyariin. Tapi kalo Bapak gak ada, Dek Sam langsung nyariin. "Mana Bapak? Mana Bapak?".

Bapak punya banyak harapan sama Dek Sam. Keinginan untuk membesarkan Dek Sam jadi penyemangat utama untuk sembuh. Bapak pengen ngajarin Dek Sam untuk selalu solat lima waktu berjamaah di masjid. Makanya sejak kecil Dek Sam udah sering diajak solat di masjid. Bahkan waktu Bapak sudah sakit dan sering sesak, Bapak masih berusaha untuk berangkat ke masjid dekat rumah pake kursi roda. Bapak pengen Dek Sam punya semangat yang sama untuk solat jamaah di masjid. Semoga Ibuk bisa membimbing Dek Sam sesuai dengan keinginan Bapak ya...


Dek Sam dan Bapak

Bapak juga orangnya nggak drama. Jadi Bapak gak nyiapin video/ucapan/kado untuk Dek Sam seperti yang di film-film atau novel Sabtu Bersama Bapak. But it's alright—seperti yang Bapak sering bilang—Life must go on. Kita akan belajar untuk melanjutkan hidup tanpa kehadiran Bapak. Kalo nanti temen-temen Dek Sam ke sekolah dianter sama Bapak/Ibunya, nanti Dek Sam bisa dianter Ibuk atau Yangti. Gak papa ya?. Gak usah sedih karena ini adalah jalan yang sudah digariskan oleh Allah. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Mungkin terdengar berat, tapi kalau kita pasrahkan semua pada Allah, insya Allah diringankan. Jangan lupa Dek Sam juga harus rajin mendoakan Bapak. Doa Dek Sam insya Allah jadi amalan yang tidak terputus untuk Bapak.

Selamat ulang tahun Samirayyan Akhtar Muhammad. Seperti namamu, semoga kelak kamu menjadi teman yang menyenangkan di surga bersama Ibuk dan Bapak.

Ibuk dan Bapak sayang Dek Sam.. *cium*