Ziarah, Film Cinta Yang Harus Kamu Tonton

Tadinya saya ingin break menulis tentang film di blog ini. Tapi ternyata ada satu film yang membuat saya merasa "aku mau ngeblog tentang film ini ah". Film itu adalah Ziarah, karya B. W Purba Negara.

Mbah Sri - diperankan oleh Mbah Ponco/Foto: print screen laah


Awalnya sih saya gak yakin akan sempat nonton film Ziarah di bioskop. Mengingat minggu-minggu ini merupakan minggu yang sibuk dan banyaknya acara di Malang yang bikin jalanan tambah macet, saya makin pesimis bisa nonton Ziarah. Sebenernya siangnya saya ditawari Ule untuk dateng ke acara diskusi film Ziarah tapi saya gak bisa hadir, apalagi saya juga blom nonton filmnya. Tapi namanya jodoh ga kemana... Sabtu sore jam 3 saya ditelpon Nana, ngabarin kalo ada tiket lebih tapi jamnya mepet, jam 3.25. Langsung deh mandiin anak dulu baru berangkat. Saya sih mandinya ntar aja. Langsung ganti baju dan pesan GoJek, lalu 3.36 akhirnya saya sampai studio Mandala.

Premis film Ziarah ini sederhana. Seorang istri (Mbah Sri) mencari makam suaminya, Pawiro Sahid, yang tidak ada kabarnya sejak Agresi Militer Belanda II. Mbah Sri ingin dimakamkan di samping suaminya tercinta.

Ada beberapa hal yang saya suka dari Ziarah. Pertama, akting para pemain yang mayoritas sudah sepuh ini terasa sangat natural. Sangat "mbah-mbah banget" mulai dari dandanannya, caranya bertutur hingga ekspresinya. Kedua, dialog film ini efektif. Ziarah bukan film yang menggaet emosi penonton lewat dialog-dialog panjang atau scoring yang megah. Dialognya pendek tapi mampu menjalin cerita tanpa terasa bosan. Oiya, 80 persen dialog di film ini pake bahasa Jawa, tapi gak usah khawatir kalo gak paham, subtitlenya pas kok. Ketiga, pengambilan gambar yang menarik. Sederhana, tapi komposisinya bagus dan bisa bercerita banyak. Saya bisa bilang bahwa ini adalah film yang shoot-shoot-annya paling bagus yang pernah saya tonton.

Keempat, perasaan dan pelajaran yang diambil setelah nonton film ini. Sungguh di luar dugaan. Sedikit bocoran, Mbah Sri bukan satu-satunya yang melakukan pencarian, ada cucunya Mbah Sri yang juga ikut menyusuri desa demi desa. Pencarian masing-masing tokoh di sini menghadapi permasalahan yang berbeda, namun dasarnya sama: cinta, kepatuhan dan kesetiaan. Ketika pencarian Mbah Sri akhirnya berhenti, Ziarah pun akhirnya keliatan pesan aslinya. Ziarah, sama seperti juga cinta, mengajarkan kita untuk merelakan.

8/10.

Comments

Popular Posts