Pengisi Daya

Aku selalu bilang pada diriku sendiri, bahwa mencintaimu ini sebenarnya urusan mudah.  Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap berada d...

Showing posts with label gigs. Show all posts
Showing posts with label gigs. Show all posts

Cahaya Dari Orchestra Night With Glenn Fredly

Glenn Fredly adalah salah satu musisi Indonesia yang livenya saya suka banget. Selain sangat humble, dia juga bisa menghidupkan suasana. Dia punya cerita atau gimmick-gimmick menarik yang membuat penonton bisa sangat dekat dengan dia dan panggungnya. Maka ketika lihat poster bahwa Glenn Fredly & The Bakuucakar (band pengiringnya sekarang) akan manggung di Malang dengan orkestra, saya merasa harus nonton.

Ternyata, acara yang bertajuk Orchestra Night with Glenn Fredly ini merupakan rangkaian dari ultah Opus 275, sebuah organisasi buat pecinta musik milik UM. Jadi sebelum Glenn tampil ada penampilan dari temen-temen Opus 275 yang gak kalah keren.

Tapi di sini saya gak akan nulis banyak tentang acara Opus 275, langsung ke Glenn Fredlynya aja ya?.
Iya.

Setelah jeda lumayan lama dari penampilan 5Art Orchestra, para anggota orkestra kembali naik panggung ke posisinya masing-masing. Emsi kembali muncul dan memanggil satu persatu personel The Bakuucakar. Penonton yang lama menunggu malah menyoraki "Huuu" ketika Nicky Manuputty dan teman-teman mulai naik panggung. Sebaliknya, saya sih malak bersorak bahagia. Lha kan ini berarti artisnya mo tampil, hehehe. Baru ketika Glenn Fredly naik panggung, histeria penonton makin menggila dan kebetean setelah lama nunggu di awal acara tadi mulai mereda.

Orchestra Night with Glenn Fredly


Selesai membawakan lagu pertama, Glenn mulai sedikit ngobrol dengan penonton. Entah brief dari mana, penonton di kelas tribun atas mulai turun bergabung dengan kami yang ada di bawah. Glenn pun menghentikan ceritanya sejenak, menunggu semua penonton dapet duduk enak supaya lebih nyaman ngobrolnya. Baik ya Glenn, hehehe....

Mohon maaf saya lupa Glenn cerita apa aja. Yang jelas dia ikut senang melihat di Malang ada kelompok orkestra yang bisa bikin acara seperti ini (orchestra night). Dia terus berharap bahwa di kota-kota lain ada kegiatan serupa, dan kalau pun ada, dia akan sangat senang sekali untuk ikut kerja sama. Lalu lagu Akhir Cerita Cinta dibawakan dengan versi full choir. Asli keren bangeeet. Ada tuh cuplikannya di IG saya, hihihi.

Kemudian lagu-lagu andalan lainnya dibawakan seperti My Everything, Habis, dan Kisah Yang Salah. Setelah itu timeline beranjak ke Glenn Fredly di era yang lebih baru. Ada Surat Dari Praha yang dibawakan secara orkestra dan itu bagus banget aransemennya. Beneran. Gak bohong. Rasanya Glenn beneran naik kelas lewat lagu dan aransemen kayak gini. Indah dan menghanyutkan. Udah nonton filmnya belum? Tonton deh kalau belum.

Lalu Glenn cerita lagi tentang debutnya sebagai produser Cahaya dari Timur. Ia menyebut kalau film ini debut bagi beberapa orang yang terlibat di dalamnya. Salah satunya, Chicco Jerikho. Chicco yang selama ini dikenal sebagai artis sinetron strippingan, memberanikan diri casting sebagai pelatih sepak bola Maluku. Surprise surprise, tiba-tiba Glenn menghadirkan Chicco Jerikho di atas panggung. Kok ya pas kebetulan Chicco juga lagi ada acara di Malang.

Tiba-tiba ada Chicco Jerikho!
Lewat penuturan Chicco, dia mengaku bahwa hasil castingnya untuk film ini gak bagus. Trus kenapa Glenn sebagai produser dan Angga Sasongko sebagai sutradara berani milih Chicco buat jadi pemain utama di Cahaya Dari Timur? Jawabannya simpel: karena Chicco janji dia akan memberikan penampilan yang berbeda dari Chicco yang tukang stripping sinetron. Filmnya sendiri sempat molor selama empat tahun karena terkendala dana, tapi Angga dan Glenn sepakat bahwa mereka gak bisa berhenti sampai di situ. Filmnya harus jadi.

Hasilnya? Cahaya Dari Timur menang Film Terbaik Piala Citra tahun 2014 dan Chicco Jerikho terpilih sebagai Aktor Utama Tebaik Piala Citra 2014.

Ngelihat ini, saya merasa Glenn seolah mengingatkan kalau kita berkarya dengan tulus, kerja keras dan hati yang baik, maka hasilnya pasti juga baik.

Sebuah nasihat yang sering terdengar dari siapa saja dan terkesan standar, tapi malam itu saya bisa melihat Glenn, Chicco dan The Bakuucakar sedang membuktikan ucapan Glenn. Pencapaian mereka dan apa yang membuat mereka bisa di titik sekarang adalah ketulusan, kecintaan dan keyakinan mereka pada karyanya apa pun halangannya.

Selanjutnya yang terbaru dari Glenn Fredly dan Chicco adalah Filosofi Kopi 2 yang rencananya akan tayang pertengahan Juli 2017. Mereka menjanjikan sesuatu yang lebih keren dan menyenangkan. Sedikit bocoran, Chicco akan nyanyi di Filosofi Kopi 2. Menurut pengakuan Chicco, dia sebenernya gak bisa nyanyi tapi karena dukungan dari Glenn Fredly, Chicco akhirnya menyanggupi tantangan tersebut. Apakah hasilnya akan bagus? Kita lihat saja nanti. Sekadar mengingatkan, Chicco adalah pekerja keras dan main sikat aja sama yang namanya tantangan. So i guess Filosofi Kopi 2 is worth to wait.

Keseruan malam ini ditutup dengan sebuah penampilan encore dari Glenn Fredly dan para penari api lewat lagu Hikayat Cinta. Kebayang gak lagu dangdut tapi aransemennya orkestra ditemani dengan tarian api-api gitu? Formula agak ajaib memang, tapi nyatanya bisa bikin semua penonton ikut nyanyi dan goyang. It was very fun. Pulangnya, sempat tergoda untuk nungguin Glenn Fredly muncul untuk minta tanda tangan di DVD Live in Lokananta. Cuma karena sepertinya akan lama banget jadinya lebih baik pulang saja.

Thank you Glenn Fredly, The Bakuucakar dan Chicco Jerikho, aku pulang dengan pencerahan dan bahagia. Sampai jumpa di karya-karya selanjutnya :*











Setengah Folk di Folk Music Festival 2016

Malem Minggu kemarin saya mencoba nonton Folk Music Festival yang diadakan di Lembah Dieng. Memang sejak dengar kabar kalau acara ini bakal diadakan di Malang, saya langsung cari info tentang acara ini sebanyak-banyaknya. Acara skala nasional men!. After tastenya kudunya sih mirip-mirip nonton Soundrenaline di kotamu sendiri, hehehe... Asyik kan?.

Setelah nama-nama pengisi acara diumumkan, saya jadi mikir.. "lah kok artisnya banyak yang ga folk?". Coba simak rundown berikut ini:

IG: folkmusicfestival  

Yang genre folk ditaruh di awal-awal aja, hehee.. Setelah WSATCC itu yang folk palingan cuma Tigapagi sama mm... Liyana Fizi?. Entahlah. Serupa dengan Java Jazz yang pengisi acara hanya beberapa nama saja yang memang musisi jazz, saya pikir hal yang sama terjadi juga di Folk Music Festival ini. Bisa dimaklumi lah. Atau mungkin sekarang pertimbangan memilih pengisi acara sudah tidak terlalu perlu dikaitkan dengan konsep acara?. But it's okaaay..... Sebagai penyuka hiburan murah meriah, saya senang-senang saja bisa nonton Liyana Fizi, Danilla, Mocca dan Float, hanya dengan merogoh kocek Rp 40-50 ribu saja.

Lalu tibalah hari H. Seorang teman, @dewinthemorning, sudah mengingatkan saya sejak pagi untuk datang lebih awal, karena takutnya nanti susah masuk ke TKP. Ya sebenernya itu ide bagus sih. Tapi waktu itu saya belum bisa ninggal Dek Sam, jadi saya pikir saya berangkat agak maleman aja gpp deh.

Dan ternyata saya salah. Malam Minggu, saya sudah mulai kena macet dari perempatan Dieng Plaza. Mungkin juga karena bertepatan dengan gegap gempita Starbucks yang baru buka di Malang City Point di sekitaran Dieng. Itu baru di area jalan besar Dieng. Belum lagi di jalan masuk ke Lembah Dieng. Rata-rata mobil yang barengan saya adalah plat W, L, ada juga beberapa plat AB. Saya lupa kalau acara ini adalah skala nasional. Dan benar saja, sekitar 500 meter sebelum Lembah Dieng, sudah mulai berjajar parkiran mobil yang itu artinya parkirannya udah rame banget Cing!. Jajaran parkiran itu ternyata berlanjut sampai hampir gerbang masuk Villa Bukit Tidar. Setelah puter-puter 3 kali dan gak dapet parkir juga, saya akhirnya ngikut mobil-mobil di depan saya yang nekat aja parkir di depan rumah orang meskipun suasanaya gelap banget dan jauh dari pengawasan pak penjaga parkir.

Setelah dapat parkir, mas-mas yang parkir di depan saya tadi ternyata nungguin saya untuk masuk ke Lembah Dieng. Mereka adalah rombongan anak-anak Jakarta yang kuliah di Surabaya dan baru pertama kali ke Lembah Dieng demi menonton Liyana Fizi dan Danilla. Jadi ya sudah kita rame-rame jalan dari parkiran ke tkp. Di tengah jalan, mereka berkali-kali nanya, bener gak sih ini tempatnya... karena menurut mereka ini tempatnya sangat gak biasa untuk ukuran sebuah konser, hahaha. Bagi yang tidak tinggal di Malang dan belum mengenal Lembah Dieng, memang tempat ini agak apa ya.. butuh effort untuk masuk, apalagi kalau ngana parkirnya di luar seperti kami tadi. Harus jalan jauh, naik dan turun lembah, sama seperti namanya. Untungnya karena jalan rame-rame, jadi capeknya gak terlalu berasa.

Dan begitu kami dapat tempat duduk, saya harus mengoreksi kalimat saya barusan. Ngos-ngosan bok!. Setelah duduk, saya rasanya pengen nunduk dan tiduran sambil ngatur nafas. Bahkan ketika rombongan Surabaya tadi nanya, "Ini siapa yang lagi maen?". Saya cuma jawab singkat "Ista". Lalu mereka kembali ngobrol dengan wajah agak bingung. Setelah ga terlalu ngos-ngosan baru saya jelaskan bahwa Ista adalah Christabel Annora, musisi Malang yang kebetulan baru saja merilis album beberapa hari lalu. Ternyata beberapa di antara mereka juga ada yang pernah nonton Ista di sebuah acara di Surabaya, cuma mereka lupa namanya.

Lalu setelahnya.. saya menikmati acara. Especially Danilla dan Float. Danilla ini menggemaskan sekali di atas panggung. Sementara Float.. Cukup memuaskan setelah mereka tampil mengecewakan setahun lalu.

Overall acaranya cukup memuaskan sih. I wish I came earlier, jadi bisa nonton AriReda, Silampukau, dan menyapa teman-teman yang bahkan saya ga ketemu saat bubaran. Next time kalau ada acara di Lembah Dieng lagi saya janji akan datang lebih awal demi lokasi parkiran yang ga bikin ngos-ngosan.

Sampai jumpa di gigs berikutnya!.






terlambat..


maaf baru datang sekarang,

apa aku ketinggalan banyak cerita?

.: adiwardhani :.

missing gigs




gambar diambil dari sini

lagi-lagi ga nonton..

*sigh*

.: adiwardhani :.